Saksi Ahli Polisi Sebut Penyewa Vanessa Bisa Jadi Tersangka

JawaPos.com- Sejak mencuatnya kasus protitusi online yang melibatkan Vanessa Angel, publik dibuat penasaran dengan sosok lelaki yang mem-booking Vanessa. Hingga saat ini, polisi belum pernah memamerkan sosok tersebut kepada awak media.

Kendati demikian, lelaki tersebut bukan berarti kebal hukum. Meskipun selama ini identitasnya tak dipaparkan secara gamblang, penyewa Vanessa itu bisa dijerat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Hal itu diungkapkan oleh pakar hukum pidana Universitas Brawijaya Malang yang ditunjuk polisi sebagai saksi ahli, Lucky Endrawati.

Lucky menerangkan, ada kualisifikasi orang yang menggunakan korban perdagangan orang. Yakni, pengenaan pada pasal 12 UU tahun 2008 tentang TPPO dengan cara menyetubuhi atau mencabuli.

“Jadi ada penemuan hukum terkait perkembangan dan fakta baru yang diperoleh penyidik. Nah, untuk pelaku (yang mem-booking) kita ikuti saja perkembangan penyidikan. Yang jelas, user-nya dapat dikenai UU TPPO itu,” terang Lucky di Mapolda Jatim, Rabu (23/1).

Menurutnya, polisi memang harus mengklasifikasi hukum pidana sesuai dengan apa yang telah dilakukan oleh saksi dan tersangka. Sehingga, hasil penyidikan akan menunjukkan pasal apa saja yang cocok untuk setiap pihak yang terlibat.

Jika seseorang mentransmisikan gambar atau video yang melanggar kesusilaan, dapat dikenakan UU ITE. Sedangkan pihak lain yang terlibat, dapat dijerat dengan UU TPPO atau dinyatakan sebagai korban.

Begitu pula dengan Vanessa. Menurutnya, polisi perlu memisahkan beberapa hal yang terkait dengan Vanessa. Vanessa tidak dapat dikatakan pelaku yang menyebarkan gambar atau video yang melanggar asusila.

Sebab posisi Vanessa dijajakan oleh si mucikari bernama Endang. Endang yang lebih tepat disangkakan pelaku. Endang yang mentransmisikan gambar atau video yang melanggar kesusilaan.

“Jadi, nggak bisa digebyah uyah atau disamaratakan. Misalnya Vanessa Angel ini sebagai pelaku, nggak bisa begitu. Dia sebagai pelaku jika dia menyebarkan video atau foto yang melanggar kesusilaan,” imbuhnya.

Editor           : Dida Tenola

Reporter      : Aryo Mahendro