MALANG KOTA– Dalam satu sekolah menengah kejuruan (SMK), rata-rata ada jumlah lulusan yang menganggur mencapai 100 siswa. Itu belum dikalikan jumlah SMK di Kota Malang, baik negeri maupun swasta. Untuk menekan angkanya, Pemkot Malang siap berkolaborasi dengan SMK. Meski, SMK kini ditangani Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur.

Bentuk kolaborasi ini, misalnya dengan membuka jalan mudah bagi SMK bekerja sama dengan beberapa perusahaan. Namun Wali Kota Malang Sutiaji malah menyarankan kalau bisa lulusan SMK bisa menjadi entrepreneur atau pengusaha muda.

Selama membuka Edu & Job Fair oleh SMKN 6 Malang kemarin (15/4), nantinya Pemerintah Kota Malang siap membantu SMK menyalurkan siswa SMK ke ranah entrepreneur. ”Karena program kami ke depan kan mencetak para pengusaha yang andal, makanya sekalian kami ajak siswa SMK,” ucap dia.

Meski dia tahu SMK bukan ranahnya pemkot lagi, dia tidak mempersoalkan. Semua jenjang pendidikan yang ada di Kota Malang tetap menjadi tanggung jawabnya. ”Saya paham masalah tersebut. Tetapi tidak ada salahnya saling bekerja sama untuk mengentas pengangguran,” jawab wali kota yang suka bermain badminton ini.

Selama di SMKN 6, dia memaparkan ada masalah yang sedang dihadapi Kota Malang, yakni menekan angka pengangguran. Di urutan pertama se-Jawa Timur, Kota Malang menduduki peringkat pertama dengan 30.898 pengangguran dari 454.848 orang pada tahun 2018. ”Karena banyak teman perguruan tinggi yang belum siap untuk bekerja  dan masih mencari lowongan pekerjaan,” ungkapnya.

Untuk itulah, dengan segala upaya yang dilakukan SMK untuk link and match dengan industri diharapkannya mampu menekan angka pengangguran di Kota Malang.

Sementara, Kepala SMKN 6 Drs Sidik Priyono menyatakan, selama pelaksanaan Edu dan Job Fair di SMKN 6 ini menggandeng tujuh industri dan sepuluh kampus. ”Ini yang kita laksanakan, biar bisa mengarahkan anak-anak mau bekerja atau kuliah,” ucap mantan kepala SMKN 7 ini.

Dia yakin, dari acara itu sendiri bisa menyerap sekitar 45 persen lulusan SMK yang ikut mendaftar. ”Yang hadir, bisa 500-an lebih,” ungkapnya.

Nah, di SMKN 6 Malang sendiri, dari 749 jumlah lulusan pada tahun 2018, sejumlah 438 telah diterima di perusahaan. Sedangkan sejumlah 158 lulusan berwiraswasta, 158 pengangguran, dan sisanya melanjutkan perguruan tinggi. Malah atas laporan dari SMKN 6 tersebut, Sutiaji berharap justru sejumlah 400 itulah yang ber-entrepreneur.

Menanggapi pernyataan Sutiaji tersebut, Sidik menyatakan bahwa dia akan mengusahakannya dengan membangun relasi dengan UKM dan bank. ”Kalau di SMK 6 kan banyak teknologi. Itu sulit sekali karena membutuhkan biaya modal yang begitu besar. Tapi kita coba menghubungkan anak-anak yang ingin berwirausaha dengan UKM atau mungkin bank,” ungkapnya.

Pewarta               : Sandra Desi
Copy Editor         : Amalia Safitri
Penyunting         : Abdul Muntholib
Fotografer          : Laoh Mahfud