Saatnya Kikis Mitos Bayi Bisa Suleten

JawaPos.com – Nyaman, praktis, dan murah. Itulah alasan para orang tua memilih popok sekali pakai untuk bayinya. Namun, hal itu menyisakan persoalan lingkungan terkait merebaknya limbah popok yang dibuang sembarangan ke sungai.

Direktur Ecoton Prigi Arisandi mengatakan, kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan. Harus ada langkah nyata untuk mencegahnya. Itu harus dilakukan pemerintah sebagai pihak yang berwenang.

Apa solusinya? Salah satunya adalah menyiapkan dropping box khusus sampah popok. Itu bisa menjadi solusi praktis yang bersifat jangka pendek.

Nah, kini harapan tersebut mulai muncul. Itu seiring dengan kebijakan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa yang mencetuskan program 99 Jembatan Bebas Popok. Gubernur perempuan pertama Jawa Timur itu juga membentuk Relawan Jogo Kali.



Program tersebut dicetuskan saat Khofifah melakukan aksi susur sungai pada 17 Februari. Persis lima hari setelah dilantik sebagai gubernur Jatim. Aksi susur dan bersih Sungai Brantas itu dilakukan di Jembatan Karang Pilang, Surabaya.

Aktivis dari Ecoton Foundation melakukan aksi kampanye mengenai sampah popok di Kawasan Sungai Brantas, Jalan Karangandong, Kabgupaten Gresik, Selasa, (30/4). Hingga saat ini, mereka masih konsisten dalam mengkampanyekan penghentian pembuangan sampah popok ke Sejumlah Sungai termasuk Sungai Brantas. (RIANA SETIAWAN/JAWA POS)

Pemprov Bisa Gandeng Industri

Guru Besar (Gubes) Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga Win Darmanto mengatakan, pencemaran limbah popok di Sungai Brantas secara statistik belum diketahui pasti. Namun, turunan limbah popok berupa mikroplastik memang telah ditemukan di sungai terpanjang di Jatim itu. “Mikroplastik dalam aliran Sungai Brantas masuk kategori sedang,” tuturnya.

Dari uji eksperimental, kandungan mikroplastik juga berpengaruh pada kesehatan manusia. Khususnya gangguan testis, ginjal, hingga kematian. “Tentu pengaruh tersebut bisa terjadi jika dosisnya tinggi,” terang alumnus Nagoya University, Jepang, itu.

Win mengungkapkan, masih banyaknya limbah popok yang dibuang ke sungai disebabkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan kurang. Kurangnya kesadaran tersebut ditambah dengan budaya yang berkembang mengenai penanganan limbah popok.

Jika popok dibakar, pantat anaknya akan suleten. “Padahal, hal tersebut tidak ada hubungannya sama sekali,” tuturnya.

Selain melakukan edukasi kepada masyarakat, pembakaran limbah popok harus dengan suhu tinggi. Kondisi ruangan juga mesti tertutup sehingga tidak menimbulkan dioksin (zat berbahaya) yang berdampak pada manusia.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jatim Diah Susilowati membenarkan bahwa persoalan pembuangan sampah ke sungai tidak hanya bisa diatasi dengan gerakan bersih-bersih sungai. Pemprov juga berkoordinasi dengan kabupaten/kota melalui setiap kelurahan. Edukasi lingkungan pun digencarkan.

Salah satunya terus mengikis mitos yang berkembang di masyarakat soal popok bayi tidak boleh dibakar. Lewat kelurahan dan LSM peduli lingkungan, program itu kini terus disebarkan.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (mar/elo/c6/git)