Saat Panik, Terapkan Metode Relaksasi Sederhana

Misalnya, keturunan, ketidakseimbangan neurokimiawi di otak, dan personal stress. Dia menjelaskan bahwa faktor stres pribadi merujuk pada peristiwa kehilangan dan perubahan drastis dalam kehidupan individu serta trauma masa lalu. Di samping itu, faktor kepribadian seseorang bisa meningkatkan risiko serangan panik.

’’Orang yang dasarnya sudah mudah panik atau enggak bisa menerima hal yang tidak sesuai dengan keinginan biasanya akan lebih mudah terkena,’’ jelas Nalini.

Dokter Sadya Wendra SpKJ menerangkan, orang dengan ketergantungan zat obat—khususnya narkoba dan zat psikotropika—juga rentan mendapat serangan panik.

Nalini menyayangkan ketidaktahuan masyarakat pada serangan panik. Terutama karena muncul gejala fisik yang menyertai. Dia mengungkapkan bahwa banyak penderita yang kecele. ’’Saat muncul nyeri dada, deg-degan, dan napas pendek atau sesak, mereka langsung ke UGD. Dikiranya serangan jantung. Padahal panic attack,’’ katanya.



Umumnya, penderita yang sudah paham menderita panic attack memang pergi ke rumah sakit. Namun, mereka tidak langsung menuju UGD. Di sana mereka tersugesti akan mendapat penanganan yang baik jika serangan makin parah. ’’Jadi, mereka biasanya bersiap di kantin untuk menenangkan diri. Setelah serangan selesai, ya pulang,’’ ujarnya.

Sementara itu, Sadya menyarankan, ketika sadar bakal muncul serangan, penderita sebaiknya menerapkan metode relaksasi yang simpel. Caranya, tarik napas perlahan, lalu embuskan, lakukan beberapa kali. Yang terpenting, jangan lupa mengonsumsi obat sesuai dengan petunjuk dokter.

Dokter yang juga berpraktik di RKZ Surabaya itu menuturkan, penderita juga disarankan mengikuti sesi terapi kognitif. Yakni, terapi yang mengajak penderita memecahkan masalah dengan berkomunikasi langsung dengan orang yang sudah sembuh dari serangan panik atau masalah kecemasan lainnya. (*)


(fam/c14/na/ce1)