Rupiah Melemah ke Level Rp 13.800 per USD Pekan Lalu, Ini Sebabnya

Rupiah Melemah ke Level Rp 13.800 per USD Pekan Lalu, Ini Sebabnya

Analis PT Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menduga, pelemahan rupiah yang menembus di atas level 13.800 lantaran imbas dari sentimen makro ekonomi Amerika Serikat yang membuat dolar menjadi makin perkasa.

Sedikit bercerita, Reza menjelaskan, sebenarnya dolar sempat melemah seiring harapan pelaku pasar terhadap tidak akan berkembangnya ancaman perang global pasca penyerangan AS dan sekutunya ke Suriah. Bahkan adanya rilis kenaikan store sales AS gagal mengangkat laju USD.

“Namun di sisi lain, laju Rupiah kembali melemah meski dibarengi juga dengan pelemahan USD,” ujarnya di Jakarta, Minggu (22/4).

Bahkan kata Reza lebih jauh, adanya sejumlah sentimen positif swperti tercatat surplusnya neraca perdagangan Indonesia senilai USD 1,09 miliar, turunnya defisit anggaran APBN ke level 0,58 persen dibandingkan tahun lalu sebesar 0,76 persen terhadap PDB 2017, hingga adanya proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun ini oleh Menteri Keuangan tidak juga mampu membuat laju rupiah kembali menguat.

Kemudian, berkurangnya permintaan atas GBP dan EUR memberikan kesempatan pada Rupiah untuk berbalik positif meski tertahan dengan pergerakan positif USD setelah merespon mulai meredanya ketegangan di Suriah hingga meredanya sentimen potensi perang dagang AS-Tiongkok.

“Rilis kenaikan U.S housing startsdi bulan Maret turut memberikan sentimen positif pada USD,” imbuhnya.

Pasca menguat, kata Reza, tidak lama kemudian laju Rupiah kembali melemah seiring dengan kembali terapresiasinya laju USD dalam menanggapi sentimen internal ekonomi AS. Meski terdapat komentar positif dari Deputi Gubernur BI yang baru dilantik, Dody Budi, dimana ketahanan kurs Rupiah sudah membaik dan tercapainya level Rupiah di level 13.700-13.800 namun, laju Rupiah masih kembali melemah.

“Adanya respon positif pelaku pasar terhadap baiknya kinerja sejumlah emiten yang merepresentasikan membaiknya ekonomi AS memberikan sentimen positif pada laju USD. Akibatnya permintaan meningkat dan berimbas pada melemahnya kembali rupiah,” tuturnya.

Disamping itu, Reza menambahkan, perkiraan akan kenaikan suku bunga AS membuat pergerakan imbal hasil obligasi AS juga turut mengalami kenaikan dan berimbas pada pergerakan USD yang ikut terkerek.

Di sisi lain, sejumlah rilis data-data ekonomi AS kian membaik dan berkurangnya permintaan terhadap EUR dan JPY juga turut membuat laju USD terapresiasi. “Imbasnya, membuat laju Rupiah kembali dalam pelemahannya,” ucapnya,


(mys/JPC)