Rumpon Nelayan Ikut Hanyut Sinergi Jawa Pos

Sunardi, salah seorang nelayan Puger, Rabu (21/12) kemarin menuturkan, sejumlah rumpon bernilai puluhan juta hanyut ke tengah laut dalam beberapa pekan terakhir. Tali-tali penambat rumpon putus, akibat tidak kuat menahan terjangan gelombang yang begitu kencang. 

“Rumpon merupakan media untuk mengundang berkumpulnya ikan. Dengan adanya rumpon, nelayan tangkap bisa lebih efektif dalam mendapatkan ikan,” ujarnya. 

Menurutnya, untuk membuat satu bangunan rumpon dibutuhkan biaya kisaran Rp 40 juta. Karena mahal inilah, umumnya sejumlah pemillik kapal membangunnya dengan cara patungan. 

Dalam kondisi normal, mestinya bangunan rumpon bisa berumur hingga enam tahun. Namun, akibat terjangan ombak, tak jarang para nelayan Puger dan sekitarnya mesti membangun ulang tiap tahun. ”Ini hal yang hampir tiap tahun terjadi. Setiap bulan Desember hingga Januari, banyak rumpon-rumpon yang lepas,” imbuh Sunardi. 

Sementara itu Soleh, nelayan lain, berujar, sepanjang musim hujan ini dirinya sudah tiga bulan terakhir tidak melaut. Hal serupa, kata dia, juga terjadi pada nyaris seluruh nelayan pesisir Puger. 

Lenyapnya sejumlah rumpon membuat konsentrasi ikan di perairan menjadi sporadis. Tak ayal, hal itu menyulitkan dirinya untuk melaut. Belum lagi kesulitan lain yang mesti dihadapi berupa terjangan gelombang besar. “Tidak berani melaut, karena keuntungan dibanding risikonya tidak sepadan. Ikannya berkurang, sementara gelombangnya menggila,” terangnya. 

Dalam kondisi seperti sekarang, mereka yang berani beradu nyali biasanya mampu mendapatkan kisaran 40 hingga 70 kilogram  dari hasil melaut. Namun itu pun jika beruntung. Sebab, banyak dari nelayan yang nekat pulang dengan isi kapal yang kosong. 

“Dalam kondisi normal, untuk perahu jenis jukung bisa mendapatkan hingga 180 kilogram sekali melaut,” pungkasnya. 

(jr/was/hdi/das/JPR)