Rumitnya Ungkap Penyebab Meninggalnya Kombespol (Purn) Agus Samad (3)

Polisi Harus Buka Hotline Informasi

Kombespol (Purn) Agus Samad.

Kebuntuan aparat kepolisian mengungkap penyebab kematian Agus Samad dipahami pakar kriminologi Universitas Indonesia (UI) Prof Adrianus Meliala. Menurut dia, karena tidak adanya saksi, membuat tugas polisi lebih berat. Apalagi saat kejadian, korban berada di rumah sendirian. Istrinya sedang berada di Denpasar Bali. Dua anaknya tinggal di Gresik dan kawasan Lowokwaru.

Namun, Adrianus menyarankan untuk mempermudah pengungkapan, dua cara yang perlu dilakukan polisi. Yakni, cara konvensional dan modern. Untuk konvensional selain olah tempat kejadian perkara (TKP), pemeriksaan saksi dan pencermatan profil maupun aktivitas korban beberapa hari sebelumnya. Sedangkan cara modern, yaitu cell dump analysis atau mencari rekaman dari sekitar lokasi dan mengurai komunikasi korban melalui telepon.

”Saya kira ini sudah dilakukan polisi. Tapi, belum ada hasil yang diperlihatkan kepada publik,” kata dosen UI itu.

Kalau dua cara ini masih buntu, Adrianus menambahkan, polisi harus mau membuka diri. Caranya melakukan pencarian data kepada siapa pun. Maksudnya, polisi melibatkan masyarakat untuk mencari kebenaran kasus tersebut. Salah satunya dengan membuka hotline informasi. Jadi, semua masyarakat nantinya bebas memberi informasi terkait kematian mantan wakapolda Sumut tersebut. Dari informasi itu, polisi nantinya menindaklanjuti dan kroscek di lapangan.

”Semuanya. Nanti kan polisi bisa memilah jika banyak informasi yang masuk. Kalau kasus pembunuhan, bisa saja ada info masuk yang bertentangan. Nah, info itu bisa diperdalam,” terangnya.

Adrianus menyamakan kematian Agus Samad dengan penyiraman Novel Baswedan dan tewasnya mahasiswa cerdas UI Akseyna Ahad Dori di Danau Kenanga. Polisi hingga kini, dia menyatakan, tidak bisa menyimpulkan kasus tersebut. Bahkan, Novel Baswedan yang merupakan saksi utama pun, belum bisa dilakukan pengungkapan oleh polisi.

”Untuk sampai pada kesimpulan yang tidak ada pelaku (tidak terlihat pelaku karena tidak ada saksi primer, Red) itu sulit. Banyak kasusnya,” tambahnya.

Dia memperhatikan, tidak adanya barang atau harta yang hilang di rumah korban menurutnya patut dipertanyakan. Patut diduga jika kematian eks wakapolda Sumut itu bermotif dendam, kecemburuan, dan salah paham. Itu pun, dia menyatakan, kalau benar ini pembunuhan. Semua kemungkinan masih bisa ditemukan polisi.

”Saran saya, polisi undang partisipasi masyarakat saja,” pungkasnya.

Pewarta: Fajrus Shiddiq
Penyunting: Abdul Muntholib
Copy Editor: Dwi Lindawati