Rumitnya Pengobatan ODHA Jika Terpapar Penyakit TBC

JawaPos.com – Orang dengan HIV AIDS (ODHA) rentan terkena penyakit lain karena daya tahan tubuh atau imun yang drop. Salah satu penyakit yang rentan menyerang ODHA adalah TBC atau Tuberkulosis. Penyakit yang menyerang paru-paru itu bisa memperburuk kondisi ODHA dan menyulitkan pengobatan.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) dr. Adityo Susilo SpPD-KPTI menjelaskan, dokter atau tim medis harus hati-hati dan teliti dalam menangani pasien ODHA dentan TBC. Sebab jika salah tata laksana, justru bisa mengancam nyawa.

“Pada saat kita obatin pasien HIV, kan kita akan kasih obat ARV (Anti-Retroviral) untuk pasien. Nah itu tujuannya menahan laju multiplikasi virus HIV. Harapannya bisa ditekan lalu jumlah virus turun, dan pelan-pelan daya tahan tubuh bisa naik. Namun pada saat ada co-infeksi, ada HIV dan ada TBC juga, maka obat ARV bisa kontraindikasi dengan tubuh pasien,” katanya dalam seminar baru-baru ini.

Sehingga dokter harus mengetahui apakah pasien ODHA tersebut memang punya risiko TBC atau tidak. Jika pengobatannya tidak tepat, akan bisa mengancam nyawa.

“Misalnya saat ODHA minum ARV tetapi tubuhnya ada kuman TBC. Nah pada saat daya tahan tubuhnya naik karena ARV, itu akan jadi berlawanan kondisinya. Ini kondisi sangat berat dan mengancam nyawa. Lebih berbahaya daripada dua-duanya belum diobati. Karena proses inflamasi peradangannya luar biasa,” jelasnya.

Menurut Adit, kondisi itu bisa menyebabkan kelenjar getah bening infeksi bertambah berat. Jika TBC blom diobati, inflamasi radang juga bertambah berat.

“Makanya saat berhadapan dengan TBC dan HIV, kami harus buktikan ada infeksi lain atau tidak. Harus buktikan ada TBC apa nggak? Atau pasien TBC, ada HIV atau enggak? Karena kalau ada 2 kondisi ini, yang harus diobati TBC-nya dulu,” jelasnya.

Berapa lama pengobatan TBC dilakukan? Jawabannya tergantung daya tahan pasien.

“Kita harus mulai ARV paling tidak setelah 2 minggu setelah obati TBC. Kenapa? Supaya obat TBCnya cukup waktu menekan kuman TBC. Akhirnya setelah ARV diberikan, daya tahan tubuh tak bereaksi,” tegasnya.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Marieska Harya Virdhani