Rumah Tergusur Tol, Eni Tinggal di Tenda Terpal

PAKIS – Eni, warga Dusun Urek-Urek, Desa Asrikaton, Kecamatan Pakis, terpaksa hidup beralas tanah dan beratap langit pasca rumahnya tergusur pembangunan proyek tol Malang–Pandaan (Mapan).

Wanita paro baya itu memilih tinggal di tenda terpal hanya beberapa meter dari reruntuhan rumahnya. Dia juga menolak menempati rumah yang dibangunkan pemerintah desa setempat sebagai bentuk protes karena merasa belum menerima ganti rugi.

Pantauan koran ini, Rabu (18/9) lalu, Eni terlihat duduk di atas kursi plastik sambil bersandar ke tembok belakang rumah tetangganya. Tatapan matanya kosong mengarah ke sisa puing bangunan bekas rumahnya yang berbatasan langsung dengan pagar tol Malang–Pandaan (Mapan).

Tepat di depan bekas rumahnya tersebut, sudah ada rumah baru yang sebenarnya diperuntukkan bagi Eni. ”Mboten, griyo kula sing niku (tidak, rumah saya yang itu),” kata Eni saat ditanya koran ini kenapa tidak berteduh di rumah tersebut.

Menurut pengakuan warga sekitar, Eni yang disebut warga mengalami depresi tersebut menolak tinggal di rumah baru. ”Nanti sore (kemarin) rencananya kami bersama warga sekitar akan membangunkan tempat berteduh untuk Bu Eni, supaya beliau tidak tinggal di luar begini,” kata salah satu warga yang enggan namanya dikorankan.



Sebelum memilih hidup di tenda terpal, Eni tinggal di rumah semipermanen. ”Rumahnya sangat tidak layak, sudah mau roboh,” tambahnya. Rumah tersebut berdiri di tanah milik Eni dan dia telah tinggal di situ sejak belasan tahun lalu.

Sementara rumah yang disiapkan untuk Eni cukup layak untuk ditempati. Di dalamnya terdapat satu kamar, satu ruang tamu, dapur, dan kamar mandi.

Menanggapi warganya tersebut, Kepala Desa Asrikaton Supaadi menuturkan bahwa dia bersama perangkat desa sudah berkali-kali membujuk Eni untuk menempati rumah barunya. ”Sampai sekarang kami terus berusaha untuk membujuknya menempati rumah yang kami bangunkan dari biaya ganti untung pembangunan tol,” kata Paad, sapaan akrabnya.

Paad menuturkan bahwa ganti rugi yang diberikan kepada Eni pun sudah sesuai luasannya. ”Luas tanah rumah milik Bu Eni sebelumnya 87 meter persegi dan diganti dengan luas yang sama,” sambungnya tanpa merinci besaran ganti rugi yang didapatkan Eni.

Namun, jika Eni tetap tak mau menempati rumah barunya, Paad berjanji akan mendirikan rumah darurat untuk wanita sebatang kara tersebut.

Secara administratif, Camat Pakis Hasiholan Matondang menuturkan bahwa penyerahan ganti kepada Eni telah melalui persetujuan keluarga yang bersangkutan. ”Kami sudah berusaha melakukan pendekatan supaya yang bersangkutan (Eni) pindah ke rumah yang sudah dibangunkan, tapi selalu gagal,” kata pria yang akrab disapa Mando itu.

Soal sertifikat, Mando menuturkan seluruh dokumen kepemilikan tanah milik Eni sedang dalam proses penyertifikatan di Badan Pertanahan Nasional (BPN).

”Sedangkan untuk dokumen yang berasal dari akta jual beli (AJB), PPAT, dan PPATS sedang dalam proses pemecahan, sebagian sudah selesai dan sebagian masih berproses,” tukas Mando.

Namun, salah seorang warga menyatakan, aksi yang dilakukan Eni tersebut sebagai bentuk protes atas ketidakadilan yang dialaminya. Dia menolak tinggal di rumah tersebut karena belum menerima ganti rugi atas rumah dan tanahnya.

”Ada oknum yang memanipulasi dokumen hingga Mbak Eni tidak menerima langsung ganti rugi uang yang menjadi haknya,” ujar warga yang enggan disebutkan namanya.

Dia bahkan menyebut, sudah menjadi pergunjingan warga jika oknum warga tersebut sempat mencarikan surat keterangan sakit jiwa untuk Eni agar bisa diwakilkan dalam proses penerimaan uang ganti rugi tol. ”Tanah yang menjadi pengganti rumah Mbak Eni itu kan tidak kena tol, jadi bagaimana caranya agar harganya bisa tinggi,” tambahnya.

Pewarta : Farik Fajarwati
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Ahmad Yani