Rumah Kreatif Unisma ala Jack Ma

MALANG KOTA – Kesuksesan Jack Ma, pendiri e-commerce terbesar di dunia, Ali Baba, menginspirasi Universitas Islam Malang (Unisma). Kampus di Jalan MT Haryono ini mendorong mahasiswanya untuk kreatif berwirausaha ala Jack Ma. Salah satu caranya dengan mendirikan Rumah Kreatif Mahasiswa (RKM). Gagasan ini sebenarnya sudah muncul tahun sebelumnya, namun baru siap di-launching tahun ini.

Rektor Unisma Prof Dr Maskuri MSi menyatakan, ide RKM ini terinspirasi dari Jack Ma. Orang terkaya di Asia Tenggara ini disebutnya memiliki kemampuan mengembangkan manajemen ekonomi luar biasa. Untuk itu, ungkap Maskuri, pihaknya ingin mahasiswa Unisma jadi kreator baru. ”Memang dari awal mahasiswa kami gembleng bisa menguasai pasar di Malang, lalu nasional, dan golnya internasional,” kata dia.

Karenanya, tahun ini Unisma menyiapkan anggaran Rp 500 juta di tahun pertama untuk kompetisi hibah mahasiswa. Namun, tahun kedua dijanjikan naik menjadi Rp 1 miliar. ”Jangan bayangkan Rumah Kreatif Mahasiswa ada kantornya di kampus. Tapi bisa dikembangkan dari kos-kosan sebagai social capital,” jelasnya.

Maskuri menjelaskan, ketika jadi tim interviewer di LPDP untuk calon mahasiswa S-3, yang diperlukan tak hanya IP tinggi. Tapi juga apa yang telah dilakukan saat menjadi mahasiswa. ”Waktu itu saya wawancara mahasiswa psikologi. Saya tanya apa yang Anda kembangkan saat menjadi mahasiswa? Dia bilang, sedang membuat klinik konsultasi yang diawali di kos-kosannya,” ucap Maskuri. Ternyata, klinik yang dimaksud si mahasiswa mendapat dukungan banyak pihak dan semakin berkembang.

Karenanya, dia ingin suatu hari RKM ini bisa berdiri di kos-kosan mahasiswa. Agar, jika RKM di kampus tidak bisa memfasilitasi semua mahasiswa, minimal di kos yang akan ditunjuk bisa membantu beberapa kelompok  mahasiswa. ”Biar RKM di kampus jadi lab, lalu yang di kos-kosan jadi cabang lab,” tegasnya.



Untuk hibah per tim, rincinya dijelaskan oleh Wakil Rektor III Unisma Dr Ir Badat Muwakhid MP. Dia menyatakan di Unisma sendiri untuk tim yang memiliki inovasi mendapat dana hibah mulai Rp 10 juta sampai Rp 12,5 juta per tim. Setiap tim diminta segera mendaftar awal tahun hingga pertengahan, dengan syarat per tim harus beranggotakan lintas prodi.

”Tahun ini baru dirilis pengumumannya April 2019. Mendatang akan dirilis mulai awal tahun. Sehingga mulai April 2020 bisa diseleksi proposalnya,” kata Badat. Proyek tersebut, menurut Badat, juga bisa diteruskan pembiayaannya di tahun kedua dan ketiga jika memungkinkan dikembangkan. ”Jika nanti bisa mencapai skala nasional atau internasional, maka bisa memakai skema pendanaan lain,” ujarnya.

Tak menutup kemungkinan, dari proposal tim bisa diseret ke Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang didanai Kemenristekdikti. ”Karena bukan gedung dan taman indah yang dibutuhkan perguruan tinggi, tetapi alumni-alumni yang kreatif dan inovatif,” pungkasnya.

Pewarta : Sandra Desi
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Abdul Muntholib
Fotografer : Laoh Mahfud