Rumah Dwi Cahyono, Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang (2-Habis)

Selain sebagai dosen Sejarah dan arkeolog, Dwi juga konseptor benda bersejarah. Tak heran bila ada banyak benda-benda etnik di rumahnya.

Dwi sudah dipercaya Jawa Timur Park Grup untuk membuat benda-benda budaya seperti replika candi, arca, rumah kuno, miniatur, hingga diorama. Karena itu, selain merancang desain, dia juga ambil bagian dalam pencarian material dan bahan pendukung untuk merealisasikan benda yang akan dibuat. Tak jarang juga dirinya terjun langsung mencari referensi benda kuno hingga pelosok nusantara.

Banyaknya benda bersejarah di rumahnya diakui Dwi sempat diprotes sang istri. Dia mengatakan, istrinya khawatir benda bersejarah di rumahnya itu ada ”isi”-nya. Tapi, Dwi memastikan bahwa benda itu hanya dimaksudkan untuk aksesori saja.

”Benda apa pun kita rituali mesti ada isinya. Apa yang ada di sini bukan untuk maksud perangkat ritual, tapi untuk aksesori dan pembelajaran,” tegasnya.

Dwi bahkan menyatakan bahwa yang dia lakukan ini untuk melestarikan. Dia menegaskan benda-benda di rumahnya tidak untuk dipuja. Dia sendiri mengaku sempat takut tatkala almarhum Mbah Karimun, maestro topeng Malangan, menitipkan topeng padanya.

”Dititipkan, tidak diberi. Dititipkannya juga diberi doa. Ya yang penting tidak saya apa-apakan,” ujarnya.

Topeng itu sendiri ditaruh Dwi di lantai dua. Memang, saat dilihat, di sana tidak ada sesuatu yang bersifat ritual, entah berupa dupa atau bunga-bunga.

Berkali-kali Dwi menegaskan benda-benda di rumahnya adalah untuk pembelajaran. Selain itu, juga kenang-kenangan. Sebab, Dwi memang gemar travelling. Setiap kali sehabis travelling dia selalu membawa oleh-oleh benda etnik yang dimaksudkan untuk aksesori rumahnya.

Pewarta: Imarotul Izzah
Penyunting: Achmad Yani
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Darmono