Rudianto, Pengrajin Sandal Custom dengan Teknik Bakar

Sandal Obong, itulah produk kerajinan sandal karya Rudianto. Obong sendiri merupakan nama lantaran teknik melukis gambar di sandal tersebut adalah menggunakan teknik bakar menggunakan besi bakar atau solder. Mau tahu ceritanya?

Sandal Obong, itulah produk kerajinan sandal karya Rudianto. Obong sendiri merupakan nama lantaran teknik melukis gambar di sandal tersebut adalah menggunakan teknik bakar menggunakan besi bakar atau solder. Mau tahu ceritanya?

Krik…krik…krik… Suara nyaring gunting memotong lembaran-lembaran busa kecil terdengar nyaring dari dalam rumah No 7 Kelurahan Nganglik, Kecamatan Batu kemarin (6/4). Rudi –sapaan akrab Rudianto- tampak sibuk menggunting, menyulam tali sandal, dan mengelem sandal buatannya.

Mesin jahit, mesin pres, beberapa pasang sandal, serta lembaran bahan-bahan pembuat sandal menumpuk di ruangan berukuran 4×5 bercampur dengan aroma lem sesekali terendus di ruangan tersebut.

Namun jangan salah sangka, meski hanya pengrajin rumahan, produknya pernah tembus hingga pasar Eropa, yakni Jerman. “Dulu ada keponakan yang di Jerman, dan pesan sandal di sini,” terang pemuda kelahiran Batu, 35 tahun silam tersebut. Saat itu, dirinya mengungkapkan bahwa saudaranya tersebut memesan tiga pesan sandal buatannya. “Tidak banyak, karena di sana sandal hanya dipakai saat musim panas yang rentangnya mungkin hanya dua bulan,” tambah alumnus Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya tersebut. Sehingga, orang Jerman lebih banyak mengenakan sepatu yang bisa menghangatkan kaki mereka.

Meski begitu, dirinya juga memiliki pesanan dari berbagai macam kalangan dan kota di seluruh Indonesia, mulai dari Jakarta, Bekasi, bahkan hingga ke Makassar. “Mereka sebagaian besar memesan sandal ke sini waktu liburan di Batu,” tambahnya.

Memang, sandal buatan Rudi sebagain besar adalah berdasar pesanan sesuai keinginan konsumen. Bahkan mereka juga bisa memesan gambar sesuai pesanan. Tentu saja semuanya dilukis dengan menggunakan solder yang terkesan artistic serta timbul. “Kalau orang pesan biasanya tidak banyak, mungkin sekali pesan hanya 2-5 pasang saja,” tambahnya.

Ia juga menuturkan bahwa tempat wisata Museum Angkut juga pernah melakukan pemesanan kepada dirinya. Tak tanggung-tanggung jumlahnya diperkirakan mencapai 100 pasang sandal. “Museum angkut pesannya sandal biasa. Untuk souvenir,” tambahnya. Ia menceritakan bahwa sandal buatannya bertuliskan Museum Angkut ataupun juga bergambar mobil-mobil bergaya retro seperti vespa dan VW kodok.

Meski begitu, teknik obong yang dipakai di sandal buatannya tidak semata-mata dikerjakan sendiri, melainkan bersama temannya. “Kalau yang melukis pakai solder itu teman saya, Irawan,” tambah alumnus SMPN 1 Batu tersebut. Ia menambahkan bawa pemesan bisa memesan gambar apa saja, model apa saja. “Kalau semakin njelimet harganya tentu semakin mahal,” ujarnya.

Dari keahliannya tersebut, dia bisa memperoleh uang sebesar Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta tiap bulannya. “Sebenarnya kalau mau kenceng (rajin) ya bisa, tapi saya lebih memilih nyantai,” tambahnya. Ia menuturkan sebab banyak agenda yang dilakukan olehnya setiap hari dan mengatur waktunya sendiri.

Sebelum dia menjadi pengrajin sepatu, ia adalah buruh selama 9 tahun lebih. Ia berkecimpung di perusahaan sejak tahun 2004 di Malang hingga 2013 di Makassar. Namun dirinya lebih memilih dan banting setir untuk menjadi pengrajin sepatu. “Karena biasanya tidak cocok dengan atasan. Makanya lebih enak memilih kerja sendiri saja,” imbuh pria kelahiran 22 November 1982 tersebut.

Akhirnya pada tahun 2015, berbekal pengalaman dan pelajaran yang ia terima dari pembuatan sepatu milik dari kakak perempuannya, dirinya akhirnya memutuskan untuk menekuni pembuatan sandal itu sendiri. “Waktu awal 2015 dulu saya membuat sandal karakter seperti Doraemon atau Mickey Mouse,” tambahnya.

Namun lambat laun akhirnya ia meninggalkan itu. “Setealh tahun akhirnya saya membuat sandal biasa,” lanjurnya. Kini, dirinya membuat aneka sandal jepit dan sandal gunung yang lebih banyak dicari di pasaran. “Saya melihat trend dan pasar bahwa sandal-sandal jenis itu lebih banyak dicari, jadi saya akhirnya khusus mengerjakan itu,” tutupnya

Pewarta : Gigih Mazda
Foto : Gigih Mazda