RS Premier Surabaya Tambah Kapasitas IGD

RS Premier Surabaya Tambah Kapasitas IGD

JawaPos.com – Peluang kesembuhan pasien yang memerlukan penanganan segera bergantung pada kecepatan respons petugas medis di rumah sakit. Terlebih pasien stroke yang wajib ditangani sebelum golden period-nya, yakni kurang dari tiga jam, berakhir. Untuk itu, manajemen time saving for life saving mutlak diperlukan.

Namun, masih ada pasien gawat darurat yang tidak mendapatkan penanganan segera karena harus
mengantre di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Lazimnya, IGD memberlakukan triage (pemilahan berdasar kondisi kegawatdaruratan) agar pasien yang membutuhkan bantuan medis secepatnya akan didahulukan.

Agar penanganan medis terhadap pasien dengan kondisi kegawatdaruratan tinggi lebih optimal, RS Premier Surabaya menambah kapasitas IGD. Beroperasinya gedung tiga lantai di area selatan bangunan existing tersebut mempersingkat waktu respons petugas medis. Sebab, jumlah pasien yang bisa diproses dalam waktu yang bersamaan lebih banyak.

”Awalnya kami hanya memproses lima pasien dalam waktu yang bersamaan, tapi kini bisa 10,” kata CEO RS Premier Surabaya dr. Hartono Tanto.

Lantai satu gedung baru difungsikan sebagai IGD dengan 10 bed, sedangkan lantai dua menjadi pusat layanan perawatan intensif (intensive care) seperti ICU/ICCU (15 bed), HCU (10 bed), dan NICU (tujuh bed). Sementara itu, lantai teratas menjadi kantor administrasi.

Dengan demikian, menurut pria yang menempuh pendidikan S-2 di Manajemen Rumah Sakit Universitas Airlangga itu, RS Premier Surabaya kini memiliki 168 bed yang bisa diperluas menjadi 201 bed. Layanan tersebut didukung tenaga medis dokter umum yang menjalani pelatihan secara berkala setahun sekali untuk memperkaya pengetahuan dan meningkatkan kemampuan.

Dukungan fasilitas medis yang dimiliki juga membuat RS Premier Surabaya dipercaya masyarakat. Rumah sakit yang telah meraih akreditasi nasional (KARS Paripurna) dan akreditasi internasional (JCI) itu dilengkapi dengan peralatan yang canggih dan modern.

”Peralatan medis yang digunakan, sebagaimana di rumah sakit lain, digunakan sekali pakai atau
disposable untuk menjamin kesterilan layanan terhadap pasien,” tutur dr. Hartono.

Kualitas pelayanan berstandar tinggi di RS Premier Surabaya terbukti dengan angka kematian pasien yang relatif rendah dibandingkan dengan angka standar nasional. Rata-rata masa rawat inap pasien pun relatif singkat, yakni tiga hari.

Pada Juli mendatang, RS Premier Surabaya membuka heart center dan tambahan ruang isolasi untuk
penyakit menular, seperti tuberkulosis akut dan flu burung. Ruang isolasi didesain agar sirkulasi udara
memiliki tekanan negatif sehingga penyakit tidak menjangkiti siapa pun yang berada di luar ruang itu.

(adv/JPC)