Robo-Robo, Tradisi Baca Doa Tolak Bala











JawaPos.com – Setiap Rabu akhir Safar Hijriah, masyarakat Kalimantan Barat (Kalbar) menggelar robo-robo. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pusat pelaksanaan robo-robo berada di Kuala Mempawah serta Desa Sungai Kakap dan Desa Punggur Kecil Kubu Raya.





Di Desa Punggur Kecil, perayaan robo-robo dihadiri langsung oleh Gubernur Kalbar Sutarmidji. Sedangkan Wakil Gubernur Kalbar Ria Norsan menghadiri robo-robo di Kuala Secapah Kabupaten Mempawah. Sementara di Desa Sungai Kakap dihadiri Bupati Kubu Raya Rusman Ali.







Sutarmidji mengatakan, pengertian robo-robo harus dipahami secara benar. Robo-robo sebenarnya lebih dimaknai sebagai kegiatan membaca doa tolak bala. Kenapa di Rabu Akhir bulan Safar? Karena setelah Safar adalah Rabiulawal, bulan kelahiran Rasulullah.





“Robo-robo ini pun dipersiapkan untuk menyambut bulan kelahiran Rasulullah,” katanya dikutip dari Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Kamis (8/11).





Pria yang karib disapa Midji ini memuji para sesepuh yang tetap mempertahankan budaya robo-robo. Tradisi ini telah berkembang di pusat-pusat kerajaan Islam.






“Terkait kegiatan hari ini, saya berkunjung untuk melihat bahwa kami harus kembali mensosialisasikan desa mandiri. Ini, Punggur Besar, Punggur Kecil dan Punggur Kapuas sudah layak menjadi desa mandiri,” tuturnya.






Midji bertekad, bersama Kapolda dan Pangdam akan menambah desa mandiri. Dari yang tadinya hanya satu menjadi 400 dalam waktu lima tahun.





Apa benar budaya robo-robo identik dengan sirik? Midji kembali menegaskan perlu memahami pengertian tradisi robo-robo.





“Sudah saya katakan tadi, robo-robo ini tradisi membaca doa tolak bala,” ucapnya.





Ia kembali menegaskan, robo-robo untuk menyambut bulan kelahiran Rasulullah. Makanya diadakan pada Rabu akhir bulan Safar. “Bayangkan saja, para leluhur kita harus membersihkan diri dalam menyambut kelahiran Rasulullah dengan membaca doa tolak bala. Masa baca doa tolak bala dikatakan sirik? Gimana ceritanya?” tegas Midji.





Sementara itu, Wakil Gubernur Kalbar Ria Norsan mengatakan budaya robo-robo yang diselenggarakan setiap tahunnya tentu akan dapat mendorong perkembangan pariwisata. Sehingga menuju ke arah pengembangan industri pariwisata yang semakin maju di Kalbar.





Untuk itu, robo-robo yang diselenggarakan di Kabupaten Mempawah diharapkan dapat memberikan nilai jual dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kalbar.





“Apalagi budaya robo-robo termasuk dalam kalender event Provinsi Kalbar yang jadwal pelaksanaannya tetap setiap tahunnya,” terangnya saat membuka acara robo-robo di Mempawah, Rabu (7/11).





Norsan juga berharap penyelenggaraan setiap tahun event ini terus meningkat kualitasnya, menarik dan semakin meriah. Sehingga event budaya robo-robo dapat lebih banyak lagi disaksikan wisatawan lokal, nusantara dan wisatawan mancanegara.





Selain untuk melestarikan nilai-nilai budaya lokal, robo-robo juga sebagai alat pemersatu dalam kehidupan bermasyarakat. “Di samping juga makna yang sesungguhnya dari tradisi ini yaitu untuk memohon keselamatan dan keberkahan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” jelasnya.





(jpg/est/JPC)