Riwayat Kelompok Barongsai

Riwayat Kelompok Barongsai

Kelompok liong dan barongsai Panca Naga yang ber-homebase di klenteng Hok An Kiong Muntilan, pernah berjaya. Kini, kelompok tersebut seolah mati suri.

MUKHTAR LUTVIE

KLENTENG Hok An Kiong masih berbenah. Hal itu tampak pada pekerja bangunan yang tengah sibuk merenovasi bangunan klenteng pada Kamis (8/2/2018) pekan lalu. Gudang utama tempat menyimpan properti liong, barongsai, beserta instrumen drum dan simbal, tak luput dari renovasi. Rencananya, gudang bakal disulap menjadi aula pertemuan. Saat peralatan kesenian dikeluarkan dari dalam gudang, beberapa di antaranya sudah rusak.

”Rusak karena terkikis usia dan faktor pemakaian. Minggu lalu, yang tidak bisa dipakai sudah dibakar dan abunya dilarung,” jelas Edi Susanto, petugas sekaligus relawan klenteng. Edi pernah menjadi salah satu pengawas Liong Panca Naga. Sejak berdiri pada awal 2000-an, ia telah berjibaku membesarkan grup hingga berakhir vakum.

Merasakan manisnya saat para remaja Tionghoa berlatih, tampil ke luar kota, hingga menorehkan prestasi. Juga perasaan getir, lantaran perlahan mulai ditinggalkan para pemain liong. ”Untuk bangkit kita harus cari orang-orang baru lagi. Melatih mereka yang mau berlatih mulai dari nol,” ucap pria 66 tahun itu.



Ia mengenang, di awal pendaftaran, antusiasme anak dan remaja Tionghoa luar biasa. Hanya bermodal selebaran di tiang listrik dan tembok sepanjang Pecinan, puluhan calon anggota mulai mendaftarkan diri. Pendaftarnya, murni anak-anak keturunan Tionghoa asli Muntilan. ”Karena mungkin beda zaman atau alasan kesibukan, sekarang tidak ada satupun dari Chinese yang minat sama sekali,” keluh Edi.

Edi seutuhnya tidak bisa membebankan meredupnya pamor Panca Naga ke pundak para mantan pemainnya. Sebab, masuk ke kelompok tersebut adalah pilihan. Mereka berpartisipasi secara sukarela tanpa paksaan. Sedangkan melanjutkan pendidikan dan bekerja, merupakan kewajiban.

”Para anggota yang sudah mahir bermain, dulu adalah dari anak-anak SMP-SMA. Sekarang ada yang melanjutkan kuliah, kerja, dan tinggal di luar kota.” Lanjut Edi, yang habis ditinggal anggota senior adalah dari barongsai.

Sedangkan liong masih bisa dipanggil untuk latihan. Beruntung, beberapa tahun belakangan, justru yang tertarik melestarikan tradisi budaya seni liong dan barongsai adalah warga pribumi Muntilan. ”Semuanya dari orang Jawa. Meski bukan Tionghoa, kita bangga karena mereka selalu datang sekadar latihan Liong Panca Naga di klenteng.”

(sm/vie/ton/JPR)