Ribuan Pelajar Madrasah Awali Peringatan Hardiknas

KEPANJEN – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Malang memulai perayaan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kemarin (29/4). Bertempat di Pendapa Panji Kabupaten Malang, ribuan siswa-siswi raudhatul athfal (RA), madrasah ibtidaiyah (MI), dan madrasah tsanawiyah (MTs) dilibatkan. Peserta saling berlomba unjuk kebolehan. Mengenakan pakaian adat, siswa-siswi tersebut menampilkan berbagai pertunjukan. Seperti tari saman, penampilan banjari, fashion show, bedah buku, hingga bersih-bersih fasilitas umum dan santunan.

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Malang Dr Mustain mengaku bila peringatan Hardiknas tahun ini memang sengaja dikemas berbeda dengan sebelumnya. ”Kami ingin mengangkat potensi-potensi yang selama ini belum banyak dieksplor dari madrasah, baik guru maupun siswanya. Kami punya banyak prestasi yang masih terpendam,” jelas dia. Di sisi lain, dalam momen Hardiknas, Mustain juga berharap pendidikan di lingkungan madrasah bisa terus ditingkatkan.

Terutama terkait dengan ketersediaan guru profesional. ”Dari segi kuantitas, grafik kami relatif sudah bagus karena dari tahun ke tahun terus mengalami kenaikan, tapi dari segi kualitas memang masih perlu pendekatan khusus,” kata Mustain. Di lingkungan instansi pendidikan negeri misalnya, dia menuturkan bila jumlah guru profesional yang mereka miliki belum mencukupi.

”Kekurangannya masih 35 persen sampai 40 persen kalau di sekolah negeri,” katanya. Sementara di sekolah swasta kondisinya lebih memprihatinkan lagi. Jumlah guru profesional tidak bisa meningkat karena berkaitan dengan pemenuhan kesejahteraan guru. ”Kalau gurunya ada, dan juga sudah mengajar, tapi mereka masih berstatus sebagai tenaga honorer murni, sehingga gajinya masih di bawah standar,” bebernya.

Kemenag sendiri sebenarnya telah menganggarkan dana insentif bagi para tenaga honorer tersebut. Namun jumlahnya hanya senilai Rp 300 ribu per orang per bulan. Sementara jika berkaca dari standar gaji profesi, sekurang-kurangnya para guru madrasah idealnya menerima Rp 1,5 juta per orang per bulan.

Dengan kekurangan dan keterbatasan tersebut, Mustain berharap seluruh pelaku pendidikan di lingkungan madrasah tidak hilang semangat. ”Kami tetap berharap agar madrasah di kabupaten yang mayoritas lokasinya berada di pedesaan ini tidak kalah dengan sekolah-sekolah yang ada di kota. Tidak harus unggul, tapi minimal harus bisa bersaing,” tutupnya. 

Pewarta               : Farik Fajarwati
Copy Editor         : Amalia Safitri
Penyunting         : Bayu Mulya
Fotografer          : Laoh Mahfud