Rhenald Kasali: Bangun Kompetensi Siswa Tidak Bisa Instan

JawaPos.com – Kebijakan merdeka belajar membawa semangat membentuk anak bangsa yang unggul di era 5.0. Mampu berpikir kreatif, kritis, berkolaborasi, memiliki daya analisis, dan berinovasi. Untuk itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim meminta Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) merumuskan semangat tersebut agar mudah dimengerti dan diaplikasikan oleh seluruh kalangan guru.

”Guru harus bisa membaca kalimat itu dan langsung 100 persen jelas apa yang dimaksudkan. Sehingga guru bisa mengaplikasikannya dalam aktivitas di kelas,” kata Nadiem di Hotel Atlet Century, Jakarta, kemarin.

Konteksnya, jangan hanya melihat situasi guru di kota. Justru para guru di daerah. Guru yang sosial ekonominya rendah harus bisa mengerti.

Selain itu, tujuan diciptakannya kompetensi adalah untuk murid. Nadiem meminta dalam merumuskannya harus merujuk satu pertanyaan: Apa dampak positifnya bagi murid di masa depan?

Ketua BSNP Abdul Mu’ti menuturkan, standar kelulusan tidak lagi menggunakan istilah kompetensi dasar. Diganti menjadi profil lulusan.

”Praktis, kompetensi melekat di dalam profil lulusan itu,” ujar Mu’ti.

Rencananya, profil lulusan memuat detik indikator seperti yang diminta Nadiem. Mulai penjabaran berpikir kritis, gotong royong, dan aspek penilaian lain. ”Berpikir kritis, misalnya. Itu profil orang kritis, tetapi membentuknya, salah satunya, melalui kebiasaan. Aspek kooperatif harus menggambarkan kegiatan siswa sehingga memenuhi kriteria profil tersebut,” bebernya.

Guru besar Universitas Indonesia Prof Rhenald Kasali mengatakan, menaikkan level pengetahuan siswa tidak bisa dilakukan secara instan. Tidak bisa dilakukan melalui uji coba maupun les bimbingan belajar (bimbel).

”Untuk membangun kemampuan itu, butuh waktu panjang dan harus dilakukan sejak dini,” jelas Rhenald dalam peluncuran buku Sentra: Inspiring School di FX Sudirman kemarin.

Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk karakter tersebut. Menanamkan kecakapan hidup seperti kemampuan bahasa, komunikasi, menata diri, disiplin, toleransi, dan menumbuhkan rasa empati.

Rhenald mengutip kata-kata Jack Ma, pendiri Alibaba: Kalau Anda (orang tua) mendidik anak untuk menjadi juara kelas untuk mengalahkan AI (artificial intelligence), maka anak Anda akan dikalahkan AI itu. Karena AI akan jauh lebih pintar dari manusia itu sendiri. Karena AI tidak kenal waktu untuk belajar, tidur, bekerja terus, berpikir terus, manusia akan kalah.

”Anak pandai, menurut pengalaman saya, duduknya di depan, merasa tidak perlu orang lain, ketus sama yang lain, agak egois. Yang sukses itu yang hubungan dengan teman itu baik. Kemampuan menata kata-katanya dengan baik,” jelas Rhenald.

Sementara itu, revolusi pendidikan oleh Mendikbud dinilai tak cukup bila tidak disertai perubahan pembelajaran di sekolah. Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Nadia Fairuza mengatakan, selama ini metode pelajaran masih mengedepankan hafalan. Karena itu, siswa kurang dalam kemampuan analitis.

”Penyesuaian ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas mutu pendidikan nasional dan juga kompetensi para siswa,” ujarnya.