Review Milea: Suara Dari Dilan, Sebuah Ruang Pembelaan

 

RADARMALANG – Kisah cinta antara Dilan-Milea selalu menarik untuk diikuti. Termasuk dalam film terbaru Milea : Suara dari Dilan.

Film ini menjadi penutup trilogi saga Dilan.

Milea : Suara dari Dilan tak lagi mengisahkan lanjutan alur cerita cinta mereka. Film ini lebih memperlihatkan apa yang dirasakan Dilan. Menghadapi Milea yang rumit dengan sifat Dilan yang pandai menutup-nutupi kekecewaan dan kecemburuan.

Di awal cerita, film dibuka dengan Dilan (Iqbal Ramadhan) dewasa yang mengetik kisah cintanya dengan Milea (Vanessa Prescilla). Ini mungkin membantu penonton pemula yang melewatkan 2 film sebelumnya.

Sisanya, alur Milea: Suara dari Dilan dibuat maju-mundur dengan kejadian di Dilan 1991, terutama ketika hubungan Dilan-Milea mulai menghadapi konflik.

Ada beberapa hal yang diungkap dari sisi Dilan. Misalnya pasca kematian Akew (Gusti Rayhan). D mana saat Milea menuduh Dilan dan geng motornya terlibat dalam kematian Akew, Dilan sangat terpukul.

Berhari-hari Dilan pun tanpa kabar, hingga Milea menangis menahan rindu. Ternyata di film ini terjawab, bahwa Dilan ditahan di kantor polisi untuk pemeriksaan terkait kematian Akew.

Dari film ini banyak ungkapan hati Dilan yang tak terjawab di scene sebeluknya. Namun film ini dibuat bersamaan dengan Dilan 1991, detail teknis hingga peran tiap karakter tak mengalami perubahan berarti.

Model narasi yang saklek dari pidi Baiq dengan novel itu membuat Milea: Suara dari Dilan terasa hanya kumpulan gambar nostalgia dari dua film sebelumnya, dengan beberapa adegan yang diperpanjang dan menampilkan suara hati Dilan.

Secara cerita, sudut pandang Dilan memang membuat cerita Dilan-Milea jadi lebih lengkap. Setidaknya, hal itu memberikan ruang ‘pembelaan’ kepada Dilan bahwa masalah antara dua remaja itu tak sepenuhnya salah pemuda itu semata.

Pewarta: Rida Ayu

Foto : Istimewa

Editor : Indra M