Review Film 'Ratu Ilmu Hitam', Antara Dendam dan Teror Santet

ZETIZEN.ID – ‘Ratu Ilmu Hitam’ menjadi salah satu film yang ditunggu-tunggu, dari sekian genre horor Indonesia yang mendominasi bioskop saat ini. ‘Ratu Ilmu Hitam’ disutradarai Kimo Stamboel dan ditulis Joko Anwar, dan merupakan reboot alias produksi ulang dari film dengan tajuk sama yang dirilis 1981 silam.

Cerita ‘Ratu Ilmu Hitam’ versi baru sangat berbeda dan tidak terkait sama sekali dengan versi lama. Film versi 2019 ini mengisahkan tiga keluarga yang berkunjung ke panti asuhan di luar kota, daerah yang terpencil dan jauh dari keramaian.

Hanif (Ario Bayu) datang bersama istrinya, Nadya (Hannah Al Rashid) dan mengajak ketiga anak mereka, Sandi (Ari Irham), Dina (Zara JKT48), dan Haqi (Muzakki Ramdhan). Dua sahabat Hanif saat tinggal di panti asuhan, Anton (Tanta Ginting) dan Jefri (Miller Khan) turut hadir. Masing-masing juga membawa istri, yakni Eva (Imelda Therinne) dan Lina (Salvita Decorte).

Mereka datang untuk bertemu pengasuh panti, Bandi (Yayu Unru) yang sudah tua dan sakit keras. Mereka berkunjung dengan niat memberikan penghormatan terakhir kepada orang yang mengasuh mereka sejak kecil.

Singkat cerita, di panti asuhan dengan bangunan tua itu terjadi kejadian aneh. Mereka terkena santet, mulai dari muncul kelabang yang berusaha masuk ke dalam tubuh sampai santet sadis yang menyebabkan tumpah darah. Menonton film ‘Ratu Ilmu Hitam’ terasa membaca komik siksa neraka.

Kimo Stamboel selaku sutradara berhasil mengeksekusi adegan tersebut, membuahkan teror bagi penonton. Ia seperti tak ingin memberikan ‘napas’ bagi penonton karena adegan teror diberikan secara terus-menerus tanpa banyak jeda.

Semua adegan dibuat dengan baik, bukan sekadar membuat penonton tegang atau agar mendapat label film horor yang meneror. Keseriusan Kimo dapat dilihat dari efek visual yang bagus. Meski ada beberapa efek yang kurang halus, namun hal itu tidaklah mengganggu.

Sederet adegan seperti ketika Lina bermain pisau sembari bercermin atau ketika serangga keluar dari punggung Eva yang berlubang berhasil membuat ngilu, merinding hingga memicu adrenalin.

‘Metode’ jumpscare juga sempat digunakan sesekali dalam film ini, melalui adegan penampakan hantu. Kendati demikian, jumpscare tersebut tak begitu menakutkan.

Sampai separuh film berjalan, ‘Ratu Ilmu Hitam’ mengajak penonton berpikir mengenai siapa yang menyantet kesemua tokoh dengan ilmu hitam.

Gaya bercerita seperti itu memang tipikal Joko Anwar. Joko kerap membuat film dengan cerita cukup rumit, seperti pada ‘Perempuan Tanah Jahanam’. Dalang di balik kejadian aneh baru ketahuan pada bagian akhir.

Sayangnya, gaya bercerita seperti itu tak memiliki akhir yang klimaks. Joko Anwar dan Kimo Stamboel gagal mengeksekusinya. Cerita terkesan ingin diakhiri dengan cepat, padahal masih ada banyak hal yang bisa dieksplorasi. Akhir cerita pun terasa kentang alias tanggung.

Kekurangan lain dalam film ini adalah beberapa cerita yang terkesan ‘bolong’. Salah satunya alasan sifat Rani (Shenina Cinnamon) yang berubah. Bisa jadi, hal ini disengaja agar ada peluang film ini berkembang menjadi sekuel. Selain itu, ada dua karakter yang kurang kuat dan tidak diperlukan, yaitu Sandi dan Dina.

Lebih lanjut, cerita ‘Ratu Ilmu Hitam’ yang tayang 7 November 2019 ini sebenarnya akan tetap berjalan baik tanpa keberadaan dua karakter itu. Nampaknya kemunculan mereka hanya untuk menjaring penonton, karena Ari Irham dan Zara JKT48 sama-sama memiliki banyak penggemar.

Penulis: Elsa Yuni Kartika
Foto: Istimewa
Penyunting: Fia