Resmikan The Kaldera, Menpar: Semoga Danau Toba Bisa Lebih Menjual

 the kaldera, danau toba

JawaPos.com – The Kaldera, Toba Nomadic Escape resmi dibuka, Kamis (4/4). Peresmian dilakukan langsung oleh Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya.

Kehadiran Menpar di The Kaldera, yang berada di kawasan Sibisa, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), disambut dengan Tari Tor Tor dan balutan kain Ulos serta aksi berbalas pantun.

Pelepasan burung merpati dan penandatanganan prasasti menandai diresmikannya The Kaldera yang diprediksi akan menjadi nomadic amenitas.

Dalam kesempatan itu, Menpar Arief Yahya mengungkapkan, alasan membangun nomadic tourism di kawasan Danau Toba. “Tentu ada alasan mengapa kita bangun The Kaldera ini. Saya menyebutnya sebagai nomadic tourism. Artinya bisa berpindah pindah. Kenapa bisa berpindah? Karena membangun amenitas yang tetap itu butuh waktu yang cukup lama. Mungkin saya tidak akan menikmati hasil dari pembangunan itu,” jelasnya, Kamis (4/4).

Tenda bubble yang dapat digunakan para wisatawan di The Kaldera. (Istimewa)

Ia pun yakin, solusi dengan menghadirkan nomadic tourism merupakan hal yang sangat tepat. Selain itu, dengan karakternya, The Kaldera dinilai sangat cocok untuk menerapkan nomadic amenitas.

“Jadi, kita membuat klasifikasi untuk wisata nomadic ini. Seperti nomadic atraksi kita terapkan di Borobudur. Di Labuan Bajo, kita buat nomadic akses. Karena disana dilengkapi dengan yacht dan lainnya. Tantangan The Kaldera adalah, membuat atraksi di luar The Kaldera dan ini menjadi tugas Kepala BPDOT,” ujarnya.

Menpar juga mengatakan, lahan The Kaldera bahkan lebih luas dari KEK Nusa Dua dan Tanjung Kelayang. “Jadi harus dipahami. The Kaldera Toba Nomadic Escape itu berada di kawasan Toba Caldera Resort. Lebih luas dari Nusa Dua dan Tanjung Kelayang,” imbuhnya.

Salah satu amenitas yang ada di The Kaldera. (Istimewa)

Ia berharap, dengan hadirnya The Kaldera, Danau Toba bisa lebih menjual. Dan cara yang paling mudah adalah memakai 3A (atraksi, amenitas, dan aksesibilitas).

“Harus ada atraksinya. Kalau Kita ingin menjadikan Danau Toba destinasi utama, maka 3A harus kelas dunia. Yang ada saat ini baik atraksi budaya, manmade, alam semua bagus, belum mendunia,” bebernya.

Dirinya pun memberikan contoh nomadic tourism yang namanya sudah sangat populer. Diantaranya, Cikole Orchid Forest di Lembang, Jawa Barat. “Fokus Orchid Forest adalah nomadic attraction. Karena, di sana ada acara live musik seperti Forchestra,” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, saat ini Kemenpar tengah berjuang agar Danau Toba dapat sertifikat sebagai Unesco Global Geopark. Kemenpar akan terus berupaya agar Danau Toba mendapatkan status Unesco Global Geopark.

Menpar hadir bersama Sekretaris Kementerian Pariwisata, Ukus Kuswara’ Ketua Tim Percepatan 10 Bali Baru, Hiramsyah S Thaib; dan Staff Khusus Menpar Bidang Komunikasi dan Media, Don Kardono.

Rombongan Menpar disambut oleh Kepala Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT), Arie Prasetyo; Ketua Tim Percepatan Nomadic Tourism, Waizly Darwin; dan para kepala daerah sekawasan Danau Toba.