Rendah, Partisipasi Pria Ikut KB

Program keluarga berencana (KB) tak melulu untuk perempuan. Metode operasi pria atau vasektomi menjadi salah satu alternatif untuk KB. Namun, kaum adam belum begitu tertarik dengan program ini, padahal pemerintah kota (pemkot) memberikan gratis kepada 15 orang.

KOTA BATU – Program keluarga berencana (KB) tak melulu untuk perempuan. Metode operasi pria atau vasektomi menjadi salah satu alternatif untuk KB. Namun, kaum adam belum begitu tertarik dengan program ini, padahal pemerintah kota (pemkot) memberikan gratis kepada 15 orang.

Dari Data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Batu, pada 2017 lalu misalnya, dari 25 target hanya ada 14 orang yang ikut vasektomi.

Sampai sekarang ini di Kota Batu kurang lebih baru ada 150-an bapak-bapak yang berani ikut program ini.

Untuk tahun ini, para kaum adam pun sepertinya masih sama. Sebab, sejak Januari sampai awal Maret ini belum ada pria yang ikut serta dalam vasektomi. Berbeda, dengan kaum hawa. Dari program Safari Layanan KB Keliling yang berlangsung satu pekan ini, antusias Ibu-ibu ikut serta dalam KB cukup tinggi. Seperti yang berlangsung di Desa Sidomulyo, kemarin (14/3).

Kepala Seksi Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, DP3AP2KB Kota Batu dr. Susana Indahwati menjelaskan, safari ini diadakan sebagai bentuk layanan jemput bola pada masyarakat yang ingin melakukan program KB. “Layanan keliling ini diberikan gratis pada akseptor (pengguna KB), sekarang ini sudah 8 desa yang kami datangi,” kata dia.

Dari layanan keliling ini, lanjut Susana, memang kaum hawa yang cukup banyak. Dari berbagai jenis KB, semuanya masih wanita yang ikut serta. “Rata-rata untuk layanan KB implant (KB untuk jangka 3 sampai 5 tahun) itu ada 10 sampai 20 peserta, kalau untuk yang menunda kehamilan seperti dengan pil, kondom, itu dibawah 10 perserta,” kata dia.

Jika Ibu-ibu, cukup antusias ikut KB berbeda dengan kaum adam. “Sampai sekarang ini (2018) belum ada pria yang ikut vasektomi,” kata dia.

Untuk vasektomi memang ada syaratnya, yakni ada pendaftaran terlebih dahulu. Sebab, minimal harus 15 peserta yang ikut serta tak dipungut biaya alias gratis. “Karena nanti mendatangkan dokter khusus dari Surabaya, jadi tidak bisa sekarang daftar langsung lalu sekarang dikerjakan,” katanya.

Namun, lanjut Susana, bukan karena menunggu layanan itu yang membuat kaum adam tidak mau menjadi peserta KB. Akan tetapi, karena alasan takut nantinya kejantanan pria tersebut akan berkurang setelah ikut KB-lah yang menjadi penyebab. “Ya masih banyak yang beranggapan KB pada pria itu nantinya mengganggu, mohon maaf, seperti ereksi dan ejakulasi,” kata dia.

“Padahal, hal itu sama sekali tidak berpengaruh,” tambah Susana.

Selama ini, edukasi dan sosialisasi terus dilakukan. Dia akui, memang tidak bisa langsung dan butuh waktu. Namun dia optimistis nantinya akan ada pria yang mau ikut KB. “Sekarang ini sudah ada yang termuda itu usia 33 tahun,” kata dia.

Tidak menutup kemungkinan, nanti kesadaran akan terbentuk. Untuk diketahui, tahun ini target untuk KB pun terus meningkat. Di Kota Batu, sendiri kurang lebih ditargetkan ada 4.195 akseptor para wanita, dari berbagai alat kontrasepsi yang dipakai. Mulai dari spiral, implant, suntik, pil, dan juga kondom. Sedangkan untuk pria, ditargetkan ada 18 akseptor baru pada tahun ini.

Pewarta : Aris Dwi
Penyunting : Aris Syaiful
Foto :Darmono