Rencana Kenaikan Cukai Rokok Picu Inflasi Kota Malang

KOTA MALANG – Pada Bulan November 2019, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat inflasi sebesar 0.01 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 136.92. Salah satu penyumbang inflasi adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0.08 persen.

“Bisa dilihat untuk rokok kretek filter sudah mulai mengalami inflasi akibat wacana kebijakan kenaikan cukai rokok. Tercatat rokok filter dan kretek mengalami kenaikan harga sebesar 0,51 persen dengan andil inflasi 0,0101 persen,” Kata Kepala BPS Kota Malang, Drs Sunaryo, Senin (2/12).

Adapun kenaikan cukai ini termuat dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 152/2019 tentang Perubahan Kedua atas PMK 146/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau. Dengan besaran Kenaikan cukai rokok tersebut sekitar 22 persen dan harga eceran sebesar 35 persen.

Beberapa waktu yang lalu, radarmalang.id pun sempat menanyakan kenaikan harga rokok di sejumlah kedai di Kota Malang. Rata-rata para penjual di daerah Kecamatan Klojen menjual dengan harga yang naik Rp 1000- Rp 2000.

Siti Romlah, salah satu pemilik bedak di perempatan Jalan Trunojoyo pun membenarkan kabar itu. Wanita yang telah berjualan sejak 20 tahun lalu itu menyebut ada kenaikan Rp 1000 sampai Rp 2000 di barang dagangan rokoknya.

“Kayak misalnya Surya Pro Mild itu dulu saya kulakan dari sales Rp 14 ribu lalu saya jual 16 ribu. Sekarang kulakannya Rp 16 ribu jadi ya saya jual Rp 18 ribu,” ujar Romlah, Kamis (21/11).

Pun dengan Laily Masruroh yang memiliki toko besar di depan Pasar Klojen. Sudah seminggu terhitung sejak 21 November 2019, harga rokok mulai merangkak naik. Dikatakannya ada kenaikan Rp 2000.

“Biasanya saya kulakan Rp 14.800 untuk rokok Surya, saya jual Rp 15.800. Sekarang kulakannya Rp 16.500, saya jual Rp 17.500. Tapi meskipun harganya naik, jumlah pembelinya ya masih tetep sih nggak berkurang,” tegas wanita berusia 30 tahun itu.

Pewarta: Rida Ayu
Foto: dok JPRM/Rubianto
Penyunting: Fia