Remaja yang Bunuh Begal untuk Membela Diri Terancam Hukuman Seumur Hidup, Ini Kata Kepala BPIP

Plt Kepala BPIP Prof Hariyono (tiga dari kanan) saat berkunjung ke rumah ZA di Gondanglegi.

KABUPATEN MALANG – ZA (17) pembunuh begal di Gondanglegi karena membela teman wanitanya diancam kurungan seumur hidup dalam persidangan dengan agenda putusan sela, Jumat (17/1).

Ancaman hukuman itu muncul lantaran hakim merujuk pada Pasal 340 tentang Pembunuhan Berencana.

Keputusan itu pun menuai pertentangan dari berbagi pihak. Termasuk dari Plt Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Hariyono.

Pria yang menjabat Plt Kepala sejak 2 Juli 2019 lalu itu tidak setuju dengan putusan sela hakim.

Saat datang ke kediaman rumah ZA di Gondanglegi, Hariyono menyarankan penegak hukum di Kabupaten Malang untuk melihat konteks tindakan kiriminal tersebut lebih luas.

Alih-alih melihat tindakan kriminal tersebut hanya tentang pembunuhan, penegak hukim dalam hal ini kejaksaan seharusnya melihat alasan ZA membunuhnya, yakni merasa terancam ketika dibegal.

“Jangan hanya lihat hitam di atas putih saja. Hukum tidak seperti itu. Kita juga harus melihat konteksnya lebih luas. Kalau hanya hitam putih anak ini memang pelaku pembunuhan. Tapi dalam konteks yang lebih luas ia adalah korban yang melakukan perlawanan,” tutur Hariyono, Sabtu (18/1).

Alumnus SMA 5 Malang berharap, aparat di Indonesia ini bisa menerapkan sila ke-5 Pancasila, yakni “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

“Kita harus adil melihat ini sesuai dengan keadilan sosial sila ke-5 Pancasila. Supaya Pancasila ini diterapkan ke seluruh elemen kehidupan masyarakat,” ujarnya. “Dalam hal ini hakim atau Jaksa seharusnya adil melihat anak ini sebagai korban/pelaku,” tuturnya.

Sementara itu, Bhakti Riza Hidayat SH, CLA menambahkan, kalau memang berkeadilan seharusnya ZA yang masih aktif sebagai siswa SMA Negeri di Gondanglegi ini dibebaskan dari segala dakwaan, yakni dakwaan pembunuhan berencana dalam pasal KUHP 340. Juga penggunaan Senjata Tajam dalam Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 menyangkut kepemilikan senjata tajam.

Pendapat Bahkti itu mengacu pasal 49 KUHP Pidana ayat 1 dan 2 yang berbunyi
“Barang siapa melakukan perbuatan yang terpaksa dilakukannya untuk mempertahankan dirinya atau diri orang lain mempertahankan kehormatan atau harta benda sendiri atau kepunyaan orang lain dari kepada seorang yang melawan hak dan merancang dengan segera pada saat itu juga tidak boleh dihukum”.

“Kalau kejadiannya kan dia tidak berencana. Darimana bisa merencanakan? Kan lucu. Kalau adil ya harusnya dibebaskan dengan merujuk pasal 49 KUHP itu,” tutur Bahktiar.

Sebagai informasi, pada bulan September lalu, ZA dengan teman wanitanya hendak menonton konser Anji di Kepanjen. Ketika hendak pulang ia bertemu dengan dua begal.

Ia pun digiring ke perkebunan tebu-tebuan di Gondanglegi. Di sana, ZA dan teman wanitanya diancam untuk menyerahkan semua benda berharga yang mereka bawa. ZA pun menolak dan sempat ada pertikaian.

Namun, beberapa saat kemudian pembegal beganti niat karena cekcok dengan ZA yang sebenarnya sudah mempunyai istri itu. Sang begal pun meminta teman wanitanya untuk melayani hawa nafsu begal tersebut.

Emosi memuncak. ZA pun berjalan ke sepeda motornya. Ia mengambil senjata tajam berupa pisau dan membunuh begal bernama Misnan.

Pewarta: Bob Bimantara Leander
Foto: Bob Bimanatara Leander