Rekor, Lapas Lowokwaru Dihuni 2.257 Napi

Lapas yang berdiri pada 1918 silam itu sebenarnya hanya untuk menampung 936 tahanan dan narapidana (napi). Namun, saat ini penghuninya mencapai 2.257 orang atau kelebihan 1.321 orang (sekitar 140 persen).

Dari jumlah tersebut terdiri dari 1.799 narapidana dan 458 tahanan. ”Jumlah ini rekor terbanyak sejak lapas tersebut beroperasi,” kata Kepala Keamanan Lapas Kelas 1A Malang Sarwito kemarin (22/5).

Dengan demikian, Lapas Lowokwaru sudah melebihi status zona merah. Artinya, lapas ini sudah jauh melebihi kapasitas. Untuk itu, semua pihak harus waspada. Jangan sampai kasus kaburnya ratusan tahanan yang terjadi di Lapas Kelas IIB Pekanbaru pada 5 Mei 2017 terjadi di Lapas Lowokwaru.

Untuk diketahui, Lapas Kelas IIB Pekanbaru sebenarnya sudah masuk dalam zona merah terkait jumlah penghuninya. Sebab, kuota penghuninya hanya 561 orang, tapi malah diisi 1.870 tahanan dan napi. Jumlah napi yang sudah sangat overload itu bisa memicu berbagai masalah di dalam lapas yang imbasnya bisa beragam.

Bahkan, warga Kota Malang pantas waspada. Sebab, bukan tidak mungkin tahanan maupun napi lapas yang berlokasi di Jalan Asahan Nomor 7, Bunulrejo, Blimbing, tersebut bergejolak dan terjadi hal yang tidak diinginkan. Misalnya mereka bisa kabur dari tahanan. Bila melihat kejadian tersebut, maka sudah sepantasnya Lapas Kelas 1A Lowokwaru siaga penuh.



Ditanya soal terus bertambahnya penghuni lapas tersebut, menurut Kepala Keamanan Lapas Kelas 1A Malang Sarwito, berasal dari titipan tahanan Polres Malang dan Polres Malang Kota beberapa waktu lalu.

Bahkan, dia mengaku jika jumlah penghuni tersebut kemungkinan masih bisa bertambah mengingat mendekati puasa Ramadan dan Lebaran karena semakin banyak kasus kriminalitas. ”Ini karena ada titipan tahanan. Padahal, tanpa ada titipan, penghuni lapas sudah melebihi kapasitas,” terangnya.

Terus bertambahnya jumlah titipan tahanan dari pihak kepolisian tersebut juga ditengarai karena banyaknya tahanan yang kabur belakangan ini. Pihak Polres Malang maupun Polres Malang Kota sempat menitipkan tahanan karena ruangan tahanan sedang dalam renovasi. ”Beberapa waktu yang lalu, Polres Malang Kota saja menitipkan 90 tahanannya,” ungkap Sarwito.

Menurut dia, di Lapas Kelas 1A Lowokwaru sendiri terdapat 18 blok tahanan. Masing-masing blok terdapat 10–28 kamar. ”Untuk kapasitas kamar tahanan seharusnya diisi hanya 10 hingga 15 orang. Tapi karena overload, akhirnya rata-rata setiap kamarnya diisi 30 orang.

Bahkan, untuk kamar tahanan narkoba, ada yang diisi hingga 45 orang,” lanjut Sarwito.
Karena membeludaknya penghuni tahanan, kata Sarwito, petugas semakin meningkatkan kewaspadaannya. Untuk memantau para tahanan dan napi, ada tiga sif penjagaan yang dilakukan petugas keamanan setiap harinya.

Yakni pagi, siang, dan malam hari. Setiap sif terdapat 13 petugas keamanan. ”Selama satu setengah tahun saya menjabat di sini, antisipasi keamanan yang diterapkan lebih ke pendekatan persuasif. Sebab, 13 penjaga tidak mungkin bisa melawan ribuan warga binaan,” ungkapnya.

Menurut dia, saat ini total jumlah petugas keamanan hanya 39 orang dan harus menjaga 2.257 napi dan tahanan. Suwito melanjutkan, pendekatan yang dimaksud itu (persuasif) adalah petugas keamanan Lapas Kelas 1A Lowokwaru secara rutin memanggil kepala kamar untuk mengadakan pertemuan.

Di situlah, setiap keluh kesah dari masing-masing perwakilan warga binaan ditampung, lalu ditangani. ”Jalan satu-satunya adalah dengan memanusiakan mereka melalui pelayanan yang maksimal,” tegasnya.

Selain itu, petugas juga semakin ketat dalam memantau barang-barang yang masuk ke lapas. Sehingga akan sulit barang selundupan bisa masuk ke lapas. Sebab, tempat tersebut sudah mempunyai alat canggih berupa X-Ray untuk bisa mendeteksi benda-benda terlarang yang masuk ke dalam lapas.

Setiap barang akan terlihat lewat monitor. Selain itu, setiap pengunjung yang membawa handphone akan ketahuan bila sampai melintas pada alat itu. Meskipun handphone yang dibawa pengunjung dalam keadaan mati.

Sebab, sirene akan langsung berbunyi yang menandakan adanya benda terlarang. Jika lolos melalui alat itu, pengunjung diperbolehkan untuk masuk ke dalam lapas.

X-Ray yang dimiliki lapas ini harganya juga tidak main-main, yaitu mencapai lebih dari Rp 1,9 miliar. Di Jawa Timur, ada empat lapas yang memilikinya. Yaitu lapas di Surabaya, Madiun, Porong, dan Malang. Selain itu, alat tersebut terhubung secara online. Dengan demikian, orang yang memerhatikan alat itu bukan hanya petugas di lapas, tapi juga petugas dari Kementerian.(viq/zuk/lid)