Realisasi KPR di Jawa Timur Tumbuh di Atas 10 Persen

Realisasi KPR di Jawa Timur Tumbuh di Atas 10 Persen - JPNN.COM

jpnn.com, SURABAYA – Catatan baik ditunjukkan sektor properti di Jawa Timur pada triwulan kedua tahun ini. Terbukti, kredit pemilikan rumah (KPR) mencatat pertumbuhan jika dibandingkan dengan tahun lalu. Mengacu data Bank Indonesia Jatim, KPR tumbuh 12,22 persen (YoY) pada triwulan kedua 2018.

Kepala Divisi Advisory Ekonomi dan Keuangan BI Jatim Taufik Saleh menyatakan, khusus untuk wilayah Jatim, BI mencatat kinerja sektor properti sampai triwulan II 2018 masih cukup baik. Pertumbuhan KPR Jatim meningkat dari 11,60 persen (YoY) pada triwulan pertama 2018 menjadi 12,22 persen (YoY) pada triwulan kedua 2018.

”Kenaikan itu didorong peningkatan KPR untuk rumah tipe di atas 70 meter persegi. Tumbuh dari 8,37 persen pada triwulan pertama menjadi 12,11 persen pada triwulan kedua,” jelas Taufik.

Bukan hanya KPR, kredit pemilikan apartemen (KPA) juga mencatat pertumbuhan bila dibandingkan dengan tahun lalu. Terutama untuk tipe di atas 70 meter persegi.

Sementara itu, saat realisasi KPR tumbuh, NPL (non-performing loan/kredit macet) relatif terjaga. Yakni, NPL KPR di tingkat 2,18 persen dan KPA 1,08 persen.

Kenaikan harga properti yang cenderung melambat ditambah penurunan suku bunga diharapkan bisa mendorong peningkatan konsumsi dan penyaluran kredit sektor rumah. Apalagi, mengacu hasil survei harga properti residensial di sekitar 342 proyek yang dimiliki 76 developer di Jatim, tidak terjadi pergerakan harga yang signifikan. ”Sekarang waktu yang tepat untuk membeli properti karena harga tidak naik terlalu banyak,” tuturnya.

Indeks harga properti residensial menunjukkan, kenaikan harga terjadi di kelompok menengah dan rumah tipe kecil. Untuk rumah tipe besar, terjadi penurunan sedikit. Pada triwulan kedua, jumlah rumah yang terjual mencapai 2.073 di antara 2.197 unit yang dibangun. ”Mayoritas yang terjual itu rumah kecil di bawah 70 meter persegi,” ungkap Taufik.

Penjualan rumah di Sidoarjo merupakan yang tertinggi karena menguasai 55 persen dari total yang dijual. Tertinggi kedua di Gresik. ”Karena memang daerah-daerah yang tidak jauh dari Surabaya yang terbanyak permintaannya,” tandasnya. (res/c14/fal)