Razia Buku ”Komunisme”, Lelucon Generasi Milenial

Razia buku-buku yang diklaim berbau komunis terus berjalan. Setelah akhir tahun lalu terjadi di Kediri, Selasa (8/1) razia kembali digelar di Padang. Pihak Kodim dan Kejari Padang mengamankan sejumlah judul seperti Kronik 65, Mengincar Bung Besar, Jas Merah, dan beberapa lainnya.

Sepak terjang ini menimbulkan banyak pertanyaan di benak masyarakat. Di tengah sepi dan matinya ”paham komunis” yang oleh generasi Y (generasi milenial) dan generasi Z merupakan ”dongeng” masa lampau, aliran yang diklaim akrab dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) ini kembali muncul.

Bukan lagi menjadi ”literasi sejarah”, kegaduhan kali ini justru lantaran gencarnya penarikan buku-buku tersebut oleh aparat keamanan. Padahal, baku tentang jenis buku yang harus diamankan masih “buram”.

Banyak pihak bertanya-tanya, mengapa masyarakat seakan-akan ditakut-takuti oleh sesuatu yang ”aktor seramnya” masih gaib. Selain itu, di era digital saat ini, di mana informasi tak hanya muncul dari media cetak, lucu rasanya jika pemberedelan ataupun perampasan buku-buku ”berbau kiri” masih dilakukan.

Karena ini justru mengerdilkan wacana masyarakat. Jika semua buku-buku yang dirasa berbahaya diamankan, masyarakat tentu akan kesulitan untuk membedakan mana paham yang lurus dan mana yang ”bengkok” karena literasinya terbatas.



Generasi Milenial Bukan Generasi 1945

Seperti yang diketahui, mereka yang berada pada usia produktif saat ini, katakanlah 15–65 tahun, atau bahkan yang lebih muda merupakan generasi yang memiliki karakteristik berbeda dengan para pemuda masa lampau. Utamanya mereka yang berada pada zaman pra kemerdekaan.

Lahir di kisaran tahun 1980–2000-an, gabungan antara generasi X, generasi Y, dan generasi Z memiliki karakteristik berbeda dengan generasi ’45. Sosiolog Karl Mannheim dalam esai yang ditulisnya pada tahun 1923 bertajuk The Problem of Generations menyampaikan bahwa, setiap generasi memiliki kekhasannya sendiri. Keunikan masing-masing terbentuk dari sejarah, budaya, dan kondisi politik yang terjadi pada waktu tersebut.

Tentu melekat dalam ingatan kita, bagaimana kisah-kisah perjuangan anak bangsa di masa pra kemerdekaan maupun beberapa waktu pasca kemerdekaan. Mereka menjadikan literasi cetak sebagai ujung tombak perjuangan. Sebut saja RA Kartini yang hobi berkorespondensi.

Melalui kekuatan tulisan dalam surat-suratnya, pejuang kesetaraan gender pada masanya ini mampu memikat hati berbagai kalangan elite Hindia Belanda. Dia berhasil memperjuangkan hak-hak perempuan yang pada saat itu masih banyak terikat tradisi lama melalui kekuatan tulisan.

Contoh lain dapat kita lihat pada para tokoh kemerdekaan, seperti Soekarno, Muhammad Hatta, dan Syahrir. Mereka juga besar berdampingan dengan literasi. Hatta bahkan dikenal sebagai Bung yang lebih tertarik pada buku ketimbang wanita. Di tempat pengasingannya, Banda Neira dan Boven Digoel, Hatta bahkan turut serta membawa 16 peti buku-buku kesayangannya.

Betapa pada masa itu, buku benar-benar menjadi ”jendela dunia”. Tidak heran jika penyebaran paham-paham berbahaya melalui buku sangat dikhawatirkan. Rasanya tak ada katalis lain yang mampu menyeimbangkan dengan cepat terkait informasi yang disampaikan sebuah buku, selain membaca buku lain tentunya.

Hal ini yang harus digarisbawahi. Jika generasi lama hanya dengan melahap sebuah buku bisa ”terperangkap” di paham tertentu, tidak dengan angkatan milenial saat ini. Hidup di masa serbacanggih, sangat lekat dengan gawai (gadget). ”No Gadget No Life”. Mereka lebih suka sesuatu yang instan dan cepat.

Daripada menghabiskan waktu untuk membaca koran, generasi ini akan lebih memilih berita online yang singkat dan dapat digali lebih dengan seusap kelincahan jari. Hal ini tentu saja menjadi PR tersendiri bagi para penyebar paham komunis, yang jika benar menjadikan buku sebagai ujung tombaknya.

Mempunyai banyak pilihan literasi online, karakteristik para milenial ini selain independen juga  kritis terhadap fenomena sosial. Mereka dengan mudah dapat menemukan berbagai sudut pandang dari berbagai postingan. Lihat saja bagaimana hoax-hoax mampu dengan mudah terbongkar, bahkan sebelum kasusnya sampai tingkat pengamanan polisi cyber crime.

Sifat lain yang dimiliki generasi ini adalah perbedaan perilaku antara satu grup dengan grup yang lain. Dahulu pemuda di era perjuangan, dari Sabang sampai Merauke misi besarnya adalah mewujudkan kemerdekaan. Berbagai organisasi kepemudaan dibentuk, dan tujuan besar tentu saja sama, mengusir penjajah dari tanah Indonesia.

Pada masa itu, rasanya tidak ada, satu organisasi atau komunitas yang secara khusus membahas berbagai seluk-beluk kuliner, otomotif, dance apalagi grafiti atau seni mural. Berbeda dengan generasi saat ini. Lagi, melihat sifat generasi ini paham komunis rasanya tak mungkin dapat bangkit lagi.

Musuh Lain yang Lebih Berbahaya

Daripada menghabiskan waktu untuk mencari sesuatu yang sudah lama mati (komunisme), masyarakat, pemerintah termasuk aparat keamanan punya PR yang lebih besar untuk bersama-sama memerangi fanatisme politik, apatisme politik, dan kapitalisme.

Seiring tingginya akses infromasi karena kemajuan teknologi, fanatisme politik cepat menyebar bak jamur di musim hujan. Hal ini menyebabkan generasi milenial pada kasus politik tertentu tidak dapat berpikir rasional. Lantaran mendukung sosok tertentu, kebencian menjadi mudah dilontarkan.

Selain itu, mereka ”lupa” menjadi ”fans” yang baik hingga tidak sempat mengevaluasi pemimpinnya. Hal yang kemudian terjadi, pemimpin yang berada di puncak kekuasaan aman melenggang tanpa kritikan.

Berseberangan dengan fanatisme politik, apatisme politik menjadi musuh yang tak kalah lebih berbahaya. Lihat saja bagaimana generasi muda ”malas” menggunakan hak suaranya ketika pemilihan umum digelar.

Padahal berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia tahun 2017 sekitar 63,36 juta jiwa penduduk Indonesia berada dalam kelompok umur pemuda (16–30 tahun) yang berarti 24,27% dari jumlah penduduk Indonesia. Bayangkan, jika jumlah ini tak mau andil menentukan masa depan bangsa.

Dan yang terakhir monster generasi milenial yang tak kalah berbahaya adalah kapitalisme. Masyarakat, perlu terus mendapat edukasi dan ’disadarkan” agar kapitalisme tidak semakin luas dan perlahan menguasai,  mempercuram jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.

*Penulis merupakan dosen Bahasa Indonesia UMM