Rayakan Kemenangan setelah ”Perang” 201 Hari

MALANG KOTA – Sekitar 500 orang umat Hindu dari berbagai daerah se-Malang Raya sepanjang hari memadati Pura Luhur Dwijawarsa, Gunung Buring, Lesanpuro, Kedungkandang, kemarin (26/12). Mereka hadir secara bergantian untuk merayakan Hari Raya Galungan. Selama di pura, umat Hindu tampak khidmat mengikuti rangkaian peribadatan.

Acara tersebut dirayakan setiap enam bulan sekali berdasarkan kalender Hindu. Dalam kalender Hindu, sebulan ada 35 hari, berarti selama 6 bulan ada 210 hari serta 30 wuku (minggu).

Dr I Wayan Legawa MSi, wakil ketua Yayasan Pura Dwijawarsa menerangkan, Hari Raya Galungan ini merupakan perayaan hari kemenangan (dharma) melawan kejahatan adharma (kejahatan) selama 6 bulan atau 210 hari. Kejahatan yang dilawan oleh umat Hindu selama 210 hari tersebut adalah 13 musuh. Di antaranya, Sad  Ripu (enam musuh) dan ada Sapta Timira (tujuh kegelapan). Selain itu, juga perayaan karena telah bebas dari tiga pengaruh penguasa jahat, yaitu Buto Galungan, Buto Dunggulan, dan  Amangkurat. ”Karena itu, hari ini (kemarin) kami sembahyang karena bebas dari pengaruh tiga angkara murka itu,” tokoh Hindu yang juga pengajar di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang (UM) tersebut.

Sebelum acara perayaan Galungan kemarin, umat Hindu juga melaksanakan perayaan penyambutan sejak dua hari sebelumnya. Yakni, Senin dan Selasa. Pada hari Senin disebut Penyajaan. Di hari tersebut, umat Hindu membuat jajanan yang disiapkan untuk hari perayaan Galungan. Sedangkan hari Selasa disebut Penampahan, yang dirayakan dengan acara masak lauk-pauk dan pemotongan babi.

Selain perayaan Galungan, acara tersebut juga bertepatan dengan piodalan (ulang tahun) Pura Dwijawarsa yang didirikan oleh Yayasan Pura Dwijawarsa pada 1963. ”Jadi, ibadah kami untuk dua tujuan, Galungan dan piodalan,” pungkas pria asal Bali tersebut. 

 

Pewarta: tr2
Copy Editor: Dwi Lindawati
Penyunting: Abdul Muntholib
Foto: Darmono