Rasisme Jadi Alasan WHO Buat Nama Baru untuk Virus Corona

RADARMALANGID – setelah lebih dari satu bulan virus Corona mewabah di penjuru dunia, 11 Februari lalu World Health Organization (WHO) akhirnya memberi nama resmi ‘Covid-19’ untuk virus yang sudah menewaskan lebih dari 1.400 orang itu.

Dalam keterangan pers-nya, Tedros Adhanom Ghebreyesus, general director WHO menjelaskan ‘Covid-19’ merupakan singkatan dari ‘corona virus desease’ dan 19 merujuk pada tahun virus ini ditemukan.

“Memiliki nama penting untuk mencegah penggunaan nama-nama lain yang tidak akurat atau berstigma,” jelas Ghebreyesus. “Juga memberi kami format standar untuk digunakan saat wabah coronavirus berikutnya,” imbuhnya.

Pemberian nama resmi juga dilakukan agar tidak muncul kesan negatif rasisme pada warga Asia utamanya China yang menjadi asal mula virus muncul. Virus corona sendiri pertama kali terdeteksi di kota Wuhan, provinsi Hubei, China.

Semenjak status corona ditetapkan jadi darurat global, sentimen anti Asia atau China dan xenophobia juga meningkat di media sosial hingga dunia nyata. Seperti kejadian di Perth, Australia, di mana ada seorang gadis Malaysia yang diusir dari apartemen sepulang merayakan Imlek.

Bersumber dari hewan, virus corona yang menyerang manusia memiliki nama masing-masing. Misalnya Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) pada tahun 2002 dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS) di tahun 2012.

Hingga kini angka kematian akibat Covid-19 menembus 1400 jiwa dan sudah menginfeksi hampi 65.000 orang. 25 negara telah mengkonfirmasi virus corona telah sampai di negaranya.

WHO mengklaim serangan virus corona lebih berbahaya dibanding aksi terorisme manapun.

Penulis: Zhavirra Noor Rivdha
Foto: Istimewa
Editor : Indra M