Ramai-Ramai Boyongan ke Karanglo-Madyopuro

Pengoperasionalan tol Malang–Pandaan (Mapan) sepertinya tidak hanya mengurai kemacetan di jalur arteri Lawang–Singosari. Tapi juga berpotensi mengubah peta kawasan strategis untuk berbisnis. Apa dampak yang dirasakan pengusaha?

++++

BELUM ada kepastian apakah tol Mapan dioperasikan pada Juni 2019 mendatang atau terpaksa ditunda lagi karena sebagian lahan belum dibebaskan. Tapi sejumlah pengusaha rumah makan (RM), kue, dan toko oleh-oleh khas Malang di sepanjang Jalan Raya Lawang–Singosari sepertinya sudah menyiapkan strategi untuk boyongan.

Bisa jadi, mereka waswas dan khawatir omzetnya merosot drastis jika tol Mapan sudah dioperasikan. Selama ini, kendaraan dari Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, dan sekitarnya yang berwisata ke Malang Raya selalu melewati jalur arteri Lawang–Singosari. Tapi jika tol Mapan sudah dioperasionalkan, bisa jadi mereka lebih memilih lewat jalur tol. Akibatnya, volume kendaraan yang melintasi jalan arteri Lawang–Singosari menurun, sehingga berdampak terhadap omzet.

Toko roti Citra Kendedes Cake & Bakery misalnya. Meski sudah mempunyai outlet di Jalan Raya Singosari 67, belakangan ini membuka outlet baru di Jalan Ki Ageng Gribig. Sesuai site plan pembangunan tol Mapan di PT Jasa Marga Pandaan–Malang, Jalan Ki Ageng Gribig itu menjadi akses exit tol Cemorokandang.

Sasaran pemasarannya adalah pengendara dari exit tol yang menuju Kota Malang atau Malang Selatan. ”Orang mau berwisata dan sebagainya, nanti keluarnya kan dari exit tol Madyopuro. Kami bisa push Citra Kendedes di sana dan menawarkan inovasi-inovasi,” ujar Supervisor Citra Kendedes Daniel Andreson kemarin.

Dia melihat area Madyopuro bakal menjadi lokasi yang strategis untuk bisnis kue. Tapi selama ini, Daniel belum merasakan. Bisa jadi karena tol Mapan belum dioperasikan. ”Kalau yang di Madyopuro ya biasa saja. Belum macet kalau di sana,” kata dia.

Apakah pembukaan outlet di Jalan Ki Ageng Gribig itu karena omzet Citra Kendedes Cake & Bakery di Jalan Raya Singosari menurun? Daniel membantah. Sejak pembangunan underpass (jalan bawah tanah), dia mengakui kawasan Singosari makin macet. Kendala yang dialaminya adalah pengiriman barang karena kepadatan arus lalu lintas. ”Kalau penurunan omzet tidak. Tapi kami kasihan sopir, antar barang waktunya jadi tidak terduga,” ucapnya.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, beberapa tempat usaha di sepanjang jalur arteri Lawang–Singosari juga mulai boyongan ke lokasi lain. Misalnya, boyongan ke jalur Karanglo–Karangploso yang dinilai lebih strategis. Hal itu karena akses kendaraan dari exit tol Karanglo yang menuju ke Kota Batu melintasi Karangploso. Mayoritas yang boyongan adalah pengusaha kuliner, seperti rumah makan (RM), kue, dan pusat oleh-oleh khas Malang.

Kepindahan sejumlah pelaku usaha dari Singosari ke Karangploso itu dibenarkan oleh Camat Singosari Eko Margianto.

”Memang beberapa (pelaku usaha) sudah mulai ada yang pindah ke Karanglo. Tapi itu kan pengusaha menengah ke atas. Pelaku usaha kecil masih tetap bertahan,” kata Eko. Di antaranya, usaha ayam geprek dan fashion. ”Tapi itu pindah cabang,” ucap Eko

Menurut Eko, keberadaan exit tol Karanglo merugikan wilayah Singosari. Sebab, volume kendaraan yang melintasi jalur arteri berkurang. Di sisi lain, Eko masih optimistis bahwa Singosari tidak akan redup.

Eko menambahkan, saat ini sudah berdiri gudang-gudang dan ruko di kawasan Karanglo. ”Singosari tetap survive, meski potensi ekonomi paling baik ya di Karanglo,” terang pejabat eselon III A Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang itu.

Pihaknya akan memaksimalkan potensi lain di Singosari. Misalnya, menggenjot kawasan ekonomi kreatif (KEK). ”Selain KEK, kami akan memaksimalkan BUMDes untuk menarik para wisatawan. Pembangunan tol Mapan tidak berpengaruh besar,” tutupnya.

Sementara itu, warga Cemorokandang dan Madyopuro merasakan dampak positifnya meski tol Mapan belum dioperasionalkan. Di antaranya, harga tanah di dua kelurahan di Kecamatan Kedungkandang itu melonjak drastis. ”Harga tanah di sini (Madyopuro) naik empat kali lipat dari sebelumnya,” kata Hendrawan, warga Madyopuro.

Terpisah, Wali Kota Malang Sutiaji menegaskan, pihaknya tetap memberikan acuan harga tanah. Meski ada kenaikan harga di sejumlah kawasan, tapi tetap mengacu perhitungan tim appraisal.

”Nanti kami tampilkan, kami berikan acuan (harga tanah, Red),” tegas Sutiaji.

Untuk kemungkinan-kemungkinan masalah akibat dampak tol Mapan, rapat koordinasi sudah dilakukan Badan Strategis Lintas Malang Raya. Sutiaji juga sudah menyampaikan dalam rapat tersebut. ”Untuk arterinya juga sudah disusun,” pungkasnya.

Pewarta : Fajrus Shidiq
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Mahmudan