Rajai Lomba Beton

MALANG KOTA – Institut Teknologi Nasional (ITN) pantas menyandang gelar ”rajanya” beton.  Maklum saja, mereka baru saja merajai event nasional Lomba Kuat Tekan Beton (LKTB). Digelar 10–12 Mei lalu di Universitas Kristen Petra, tim engineer ITN melibas puluhan tim dari kampus lain.

Dua tim yang berhasil meraih juara dalam lomba ini ialah tim The Engineer sebagai juara I dan tim Beton Tahan Serang (BTS) sebagai juara II. Tim The Engineer terdiri dari Reynhard Bayu Prananda Ghunu, I Komang Azi Sunaryo G., dan Wahyu Bangkit Pangestu Aji. Sedangkan Tim BTS terdiri dari Dian Roby Sugara, Fellix Christovel Simbaiang, dan Riski Kurniawan.

Ketua Tim Engineer Reynhard menyatakan tema LKTB tahun ini adalah membuat campuran beton yang ramah lingkungan dengan mengurangi penggunaan semen. Penggantinya adalah memakai fly ash atau limbah batu bara. ”Tim kami menggunakan perbandingan 40 persen fly ash dan 60 semen untuk kejuaraan ini. Kemenangan kami pun tak lepas dari latihan mixing agar beton bisa semakin kuat,” katanya.

Dia mengakui, kesulitan yang paling nyata adalah melihat komposisi beton dan air, apakah bisa mengalir bersama atau jurus saling melawan arus. ”Sulitnya juga di situ,” jawabnya. Sebelum kompetisi ini digelar, mereka telah berlatih selama sebulan penuh dengan dibumbui kegagalan saat melakukan eksperimen. ”Kami sempat uji coba di laboratorium dan gagal 2 kali. Jadi, beton yang kita buat campurannya nggak bisa nyatu, jadi semen sama kerikilnya ngikut air terus,” sambungnya lantas tersenyum.

Kompetisi LKTB sendiri merupakan kompetisi pembuatan beton yang menuntut tim agar pandai-pandai membuat komposisi beton dari limbah pembakaran batu bara. Seluruh tim diharapkan mampu membuat beton tidak murni semen atau menggunakan campuran fly ash (abu terbang).



Beton yang dibuat Reynhard bersama dengan I Komang Azi Sunaryo dan Wahyu Bangkit Pangestuaji ini menggunakan komposisi fly ash 40–45 persen. Sisanya menggunakan semen. Meski tak sekuat semen, beton ini mampu menahan tekanan hingga 1.000 kilonewton.

”Sebenarnya inti dari beton itu bagus atau tidak adalah pada saat pencampurannya. Mau komposisinya sama dengan kami, tapi kalau tim lain dari segi air maupun kerikil nggak teliti ya buyar. Kalau untuk komposisi bahan lain kayak air itu kami pakai insting,” bebernya.

Ketelitian mereka membuat kepulangan ke Malang dapat memboyong trofi dan uang tunai Rp 5 juta. Selain itu, ketiga mahasiswa ini juga diapresiasi pihak ITN Malang dengan pembebasan SPP selama 2 semester.

Pewarta : Sandra Desi
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Ahmad Yani
Fotografer : Sandra Desi