Raih Magister dari UGM, Kerja Cekatan di Tengah Keterbatasan

Menyandang different ability people (difabel) tunadaksa tangan tidak lantas membuat Muhammad Karim Amrullah menyalahkan keadaan. Dia berhasil menapaki ”tangga-tangga” kehidupan meski kadang mendapatkan cibiran. Kini, dia bekerja di perusahaan bonafide. Apa kunci suksesnya?

 

 

Muhammad Karim Amrullah tak henti-hentinya menebar senyum saat menjadi narasumber di Keraton Ballroom Hotel Tugu, Malang, Kamis (20/9). Ketika itu, dia seperti memberi pencerahan bagi para difabel yang menjadi peserta dalam acara Ayo Inklusi! Forum Komunikasi Perusahaan Inklusif dan Kesadaran Disabilitas.

Selain para difabel, acara yang digelar oleh The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP) dan USAID ini juga diikuti 60 perusahaan di Malang dan beberapa kota di Jawa Timur, pemerintah, perguruan tinggi, dan sejumlah organisasi difabel. Saat itu, pria yang akrab dipanggil Karim ini berbagi inspirasi menjadi seorang difabel yang menembus keterbatasan.

Saat menceritakan kehidupannya yang penuh kegetiran, terlihat kecanggungan dari wajahnya. Anak dari pasangan Afiati dan Arifin ini menyatakan kalau dia mengalami keterbatasan sejak kecil. Tangannya tidak tumbuh sempurna. Kedua tangannya masing-masing ada tiga jari saja.

Namun, untuk segala aktivitas, dia mampu melakukan semuanya. Seperti makan, minum, bahkan menulis. ”Orang tua saya selalu mendukung apa pun yang saya lakukan. Bahkan, ketika saya suka dunia politik sejak SD, Ayah selalu menyarankan untuk melihat televisi bertema politik,” ucap pria 24 tahun ini.

Sarjana Hukum Tata Negara Universitas Gadjah Mada (UGM) ini melanjutkan, sejak sekolah dasar dia selalu mengikuti berita-berita soal politik, terutama soal Saddam Hussein. Nah, dari situlah Karim menyukai dunia politik. Namun, ketika kelas III SD, dia mengalami bullying karena kondisi fisiknya. ”Saya sempat dipanggil T-rex (jenis dinosaurus), karena lari saya kencang,” ucap peraih gelar magister Ilmu Hukum UGM tersebut.

Namun, ada salah satu temannya yang bilang, ternyata dia dipanggil T-rex karena tangannya seperti dinosaurus. Nah, sejak kelas IV SD, dia merasa minder dan terkucil. Hingga akhirnya dia bisa bangkit dan percaya diri kembali ketika SMP, berkat nasihat ibunya. ”Saya sebagai Ibu kamu (Karim) saja bisa menerima apa pun kondisinya. Makanya jangan minder,” ujar alumnus MAN 1 Jogjakarta itu menirukan perkataan ibunya.

Ucapan ibunya itu rupanya menjadi titik balik Karim untuk memupuk kepercayaan dirinya kembali. Hingga akhirnya dia lulus SMA dan ingin melanjutkan studinya di Institut Seni Indonesia (ISI). Namun, ibu dan ayahnya melarang. Anak kedua dari tiga bersaudara itu disarankan agar melanjutkan studi perguruan tingginya di jurusan hukum, karena Karim menyukai dunia politik. Menurut sang keluarga, antara ilmu hukum dan politik punya kemiripan. ”Ibu saya bilang kalau harus kuliah di jurusan hukum, biar linier dengan bidang politik yang saya sukai. Jadi, tidak masuk ISI, malahan masuk UGM,” ujar alumnus SMPN 1 Depok Sleman itu.

Akhirnya, Karim melanjutkan studinya di bidang politik. Dan setelah lulus, dia diterima bekerja di sebuah perusahaan yang besar. ”Awalnya, teman saya memberitahu kalau ada perusahaan yang mencari pekerja difabel. Saya pun mencoba untuk ikut tes. Untuk semua tes, saya lolos. Tapi, soal kesehatan, masih ada kendala,” ujar alumnus SD Muhammadiyah Condongcatur ini.

Tapi, Boy Gemino, legal dari PT Pamapersada Nusantara (PAMA),  menyatakan, jika harus ada pengecualian soal menerima karyawan difabel kalau hanya terkendala soal kesehatan saya. ”Semua tes sudah dijalani dan termasuk kualifikasi, tapi terkendala tes kesehatan. Alhamdulillah, Pak Boy memberikan kesempatan untuk lolos,” ucap Boy yang juga hadir di acara itu.

Jadi, Karim pun kini bisa bekerja di PT Pamapersada sebagai corporate legal. Tugasnya membuat perizinan apa pun dan membuat kebijakan-kebijakan di dalam perusahaan. ”Orangnya cekatan ya, bahkan hingga larut malam dikirimi e-mail pun dari kantor, dia langsung mengerjakannya. Menginspirasi sekali, dia di perusahaan PAMA,” ujar Boy.

Untuk diketahui, PAMA merupakan anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya oleh PT United Tractors Tbk, distributor utama alat berat Komatsu di Indonesia. Perusahaan ini saham terbesarnya dimiliki oleh perusahaan multinasional PT Astra International Tbk. Dalam hal alat berat, PT United Tractors Tbk merupakan salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.

Pria yang hobi melukis dan fotografi aliran naturalistik ini pun berpesan, sebelum mewujudkan impiannya menjadi corporate legal di PAMA, dia lebih dulu mengikuti tes CPNS 2017, tapi tidak diterima secara fisik. ”Tapi, alhamdulillah ada saja rezeki ya. Diterima di sebuah perusahaan yang besar, yang memang mau inklusi,” ujarnya. Dia lalu berpesan kepada semua penyandang disabilitas. ”Everyone has ability, but not everyone can see (semua orang mempunyai kemampuan, tapi tidak semua orang bisa melihat kemampuan itu),” ujarnya. Karena petuah inilah, pria kelahiran Jogjakarta, 15 Juli 1994 ini berharap agar para difabel tidak putus asa dalam menjalani kehidupan.

Pewarta: Naomi Victoria Eriyanto
Copy Editor: Dwi Lindawati, Amalia
Penyunting: Irham Thoriq
Fotografer: Hardi Sampurno