Rahmat Setiabudi, Arek Wajak yang Jadi Langganan Juara Lari Tingkat Nasional

Jalan bagi Rahmat Setiabudi untuk menjadi atlet lari andalan Indonesia di event tingkat internasional terbuka lebar. Di usianya yang belum genap 18 tahun, Rahmat Setiabudi sudah memenangkan puluhan kejuaraan di tingkat nasional. Sebuah capaian yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh si anak penjual bakso tersebut.

ARIS SYAIFUL ANWAR

Kamis pagi lalu (22/6), Budi–sapaan akrab Rahmat Setiabudi– tengah bersantai di rumah orang tuanya. Sebuah rumah khas pedesaan di Desa Wajak, Kecamatan Wajak, itu memang menjadi tempat paling nyaman bagi Budi untuk melepas penat.

Apalagi, saat ini Budi dalam posisi ”menganggur” pascalulus dari SMA Negeri Olahraga (Smanor) Sidoarjo. ”Tapi, pada 2 Juli 2017, saya sudah harus bergabung dengan pemusatan latihan di Jakarta. Ada kejuaraan tingkat Asia yang harus saya ikuti di Singapura,” ujar pemuda kelahiran Malang, 30 Juni 1999 tersebut.

”Tiket” untuk mengikuti kejuaraan tingkat Asia itu dia peroleh setelah sebelumnya mampu meraih hasil bagus dalam sejumlah perlombaan yang diikuti. Budi lantas menunjukkan puluhan piagam dan piala yang tertata rapi di lemari rumah orang tuanya.

Dalam dua tahun ini saja, ada sembilan medali emas yang dikumpulkan Budi. Mulai dari medali emas Jakarta Open 2015; Kejurnas Pusat Pembinaan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) 3.000 meter putra 2016; Kejurnas PPLP 1.500 meter putra 2016; Borobudur 10K 2017; 3.000 meter junior putra 2017; 1,5K Malang Beautiful Run 2017; 5.000 meter Popda Jember 2017; 1.500 meter Popda Jember 2017; dan 5.000 meter junior putra 2017 di Jakarta.



”Waktu ikut (kejuaraan) 5.000 meter di Jakarta, saya pecahkan rekor. Catatan waktu saya 15,44 menit. Dari situlah, saya bisa masuk pemusatan latihan untuk kejuaraan Asia,” ujar putra pasangan Musi Amin dan Rini Susianti ini.

Kejuaraan Asia itu bisa jadi melapangkan jalan Budi untuk menjadi wakil Indonesia di ajang-ajang lain yang lebih bergengsi. Tak muluk-muluk, bisa tampil di SEA Games saja bakal membuat Budi senang bukan kepalang.

SEA Games menjadi mimpi besar Budi, mengingat sang ayah pernah berkiprah di sana. Ya, Musi Amin pernah menjadi wakil Indonesia pada SEA Games XXII di Hanoi, 2003 silam. Waktu itu, Musi Amin turun di nomor 10 ribu meter. ”Ayah dulu dapat nomor keempat. Itu jadi motivasi saya untuk bisa menyamai prestasi ayah, bahkan lebih,” ujarnya.

Berkat sang ayah pula, Budi mengenal olahraga lari. Sejak kelas IV SD, Budi sudah ikut ayahnya berlatih di lintasan atletik Stadion Gajayana. ”Ayah pernah bilang kepada saya, tanamkanlah semangat yang tak terkalahkan,” ujar Budi menirukan kata-kata ayahnya.

Kata-kata itu selalu terngiang dalam pikiran Budi. Itu menjadi doping yang membuatnya selalu bersemangat saat berlatih, seberat apa pun latihan yang harus dia jalani.

Selain berlatih bersama Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI), Budi juga sering kali menambah porsi latihannya sendiri. Dia mengaku paling suka berlatih di tanjakan, di kaki Gunung Semeru. Kebetulan, tanjakan-tanjakan itu bisa dengan mudah dia temukan di Desa Wajak. ”Itu membuat fisik saya lebih tertempa,” ujarnya.

Karena itu, selama menekuni olahraga lari, Budi nyaris tidak pernah mengalami cedera serius. ”Dulu pernah jatuh hingga kuku terlepas. Ya itu saja. Alhamdulillah, tidak sampai cedera parah. Saya selalu berhati-hati,” katanya.

Bagi Budi, penting untuk selalu menjaga fokus dalam setiap latihan dan perlombaan yang dia ikuti. Karena itulah, Budi bisa meraih banyak medali sepanjang karirnya di lintasan atletik.

Ketika sudah berada dalam posisinya sekarang, Budi tak pernah melupakan orang tuanya. Baik ayah maupun ibunya. Sebagian uang hadiah yang dia dapatkan dari lomba diberikan kepada orang tuanya. ”Sebagian lagi saya belikan vitamin agar tetap prima saat berlatih dan ikut kejuaraan,” ujar dia.

Budi juga tidak pernah merasa canggung membantu ayahnya yang saat ini menjadi penjual bakso di Pasar Wajak. Ketika tidak ada agenda latihan, kejuaraan, maupun aktivitas sekolah, Budi biasanya ikut ayahnya berjualan bakso. ”Saya bagian membersihkan mangkuk, hehe…,” ujar Budi.

Dia merasa apa pun yang sudah dilakukan saat ini belum cukup untuk membayar kebaikan dan perhatian ayahnya. Apalagi, ketika Budi berlomba, sang ayah sering kali menyempatkan diri untuk hadir.

Seperti ketika Budi mengikuti Popda 2017 di Jember. ”Ayah hingga tidak berjualan bakso demi mendukung saya. Itu membuat saya terharu,” katanya. (*/c2/muf)