Rahasia Sahabat Lama, Fourtwnty-Rubah Di Selatan

MALANG KOTA – Sama-sama berkreasi di jalur indie dan menggeluti musik folk. Itulah Fourtwnty dan Rubah Di Selatan yang tadi malam (28/8) satu panggung di ajang Musicversary Folk Fest 2019.

Keakraban personel kedua band yang namanya mulai melejit di belantika musik Indonesia itu terungkap saat ngobrol ringan di kantor Jawa Pos Radar Malang beberapa jam sebelum tampil.

In fact, Fourtwnty baru manggung pertama di Jogja 2016 itu langsung ngajak (tampil bareng),” ujar Ronnie, pemain perkusi Rubah Di Selatan, ketika disambut General Manager (GM) Radar Malang Don Virgo kemarin.

Bagi Ronnie, Fourtwnty bagai sahabat lama di event perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-20 Radar Malang di gedung Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang (UM). Selain Fourtwnty dan Rubah Di Selatan, juga ada Coldiac.

”Semakin sering kontak-kontakan sih sama Fourtwnty dan kami ya beberapa kali manggung bareng. Enak bareng sama mereka itu,” tambah Melinda, vokalis Rubah Di Selatan.

Dalam ngobrol ringan itu, Melinda membeber rahasia musiknya. Lagu berjudul ”Mata Air Mata” misalnya, sebagai pengingat generasi muda agar tidak melupakan sejarah. Lagu tersebut pernah ditulis dalam dua versi, yaitu Inggris dan Indonesia.

”Namun, yang kami luncurkan hanya yang bahasa Indonesia. Karena selain dekat dengan bahasa ibu, juga maknanya lebih mengena,” ujar gadis asal Jepara itu.

Sementara Gilang, gitaris Rubah Di Selatan, mengaku bahwa ada alasan khusus mengapa banyak mengangkat alat-alat musik lokal tradisional dalam karya-karyanya. Menurut dia, banyak nada-nada ajaib nan magis dalam budaya lokal Jawa.

Misalnya nada-nada dari Tembang Macapat yang ternyata dapat  menjadi sumber inspirasi mengarang lagu. ”Nada-nada yang ajaib itu sebuah fase dari alam yang kami pelajari, lalu kami mainkan dan menjadi sebuah karya,” ungkapnya.

Terkait nama band mereka yang tidak biasa, Gilang mengaku sengaja mencari nama untuk band mereka, di mana nama itu tidak ada di Google. Selain itu, mereka mencari filosofi Jawa, yakni ke mana pun pergi pasti akan kembali pulang.

Yaitu, pulang ke selatan karena ke Kota Bantul, kota asal mereka, terletak di Pulau Jawa sisi selatan. Sedangkan pemilihan nama Rubah, karena terdapat unsur magis dan misterius dalam hewan tersebut.

Sementara itu, personel Fourtwnty sempat memanasi penampilannya di gedung Graha Cakrawala UM. Hal itu dilakukan siang hari, beberapa jam sebelum menghentakkan panggung di ajang Musicversary Folk Fest 2019.

Pewarta : Eri
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Mahmudan