Puslitbang ala Negeri Dongeng Lengkapi Pabrik Canggih Huawei

Huawei menjadi salah satu pemasok perangkat telekomunikasi dan jaringan komunikasi terbesar dunia. Dari markas besarnya di Tiongkok, Huawei mempersiapkan semuanya dengan matang. Berikut pengalaman wartawan Jawa Pos Puji Tyasari yang baru pulang dari sana.

KAMI sudah sekitar 30 menit meninggalkan kompleks pabrik Huawei di Kota Dongguan, Provinsi Guangdong, Tiongkok, saat bus berhenti dan kemudian parkir di Huawei Songshan Lake R&D Campus. Rombongan media Indonesia yang terdiri atas jurnalis dan fotografer asal Surabaya dan Semarang turun dari bus. Kami lantas ganti naik kereta. Tepatnya shuttle train.

Kereta itu hanya beroperasi di Huawei Songshan Lake R&D Campus. Start dari gerbang menuju ke gedung-gedung di pusat penelitian dan pengembangan (puslitbang) Huawei tersebut. Selasa (9/7) itu, kereta berwarna merah dan emas itu menarik empat gerbong. Tujuan kami adalah bangunan utama puslitbang.

Begitu masuk gerbong, kami tidak lagi merasa sedang berada di Negeri Panda. Alunan musik klasik yang diputar terus-menerus di dalam kereta itu membuat kami merasakan suasana Eropa.



Apalagi, pemandangan di kanan dan kiri kami adalah deretan bangunan khas Benua Biru. Sebagian besar mirip kastil. Rumput hijau dan patung-patung bergaya Renaissance yang menghiasi taman-taman luas di kanan-kiri gedung sukses mengecoh pandangan kami, membuat kami lupa sedang berada di Asia.

“Ini kantor manajemen dan puslitbang Huawei,” kata pemandu yang mendampingi kami hari itu. Sebagian orang, menurut dia, menjuluki puslitbang tersebut sebagai Kampung Huawei. Tapi, kompleks itu jauh dari kesan kampung. Apalagi kampungan. Jalanan luas, sungai, dan danau buatan yang sengaja dihadirkan di sana menambah kesan elite area tersebut.

Puslitbang di lahan seluas 1.900 bau atau sekitar 1.348 hektare itu mulai beroperasi pada Agustus 2018. “Tidak sembarang orang bisa masuk sini,” tegas pemandu kami. Mereka yang hendak bertamu harus mengurus izin jauh-jauh hari. Tujuannya, aktivitas pekerja di area tersebut tidak terganggu.

Karena bekerja di puslitbang membutuhkan konsentrasi tinggi dan ketekunan, Huawei menghadirkan titik-titik pemecah ketegangan. Misalnya, tempat nge-gym, perpustakaan, kafe, dan minimarket.

Ribuan peneliti yang sehari-hari bekerja di puslitbang itu juga tidak tinggal di kompleks tersebut. Mereka tinggal di permukiman yang letaknya lumayan jauh dari tempat kerja. Karena itu, setiap hari mereka harus menumpang kereta sampai gerbang depan dan melanjutkan perjalanan dengan bus atau angkutan umum yang melintas di depan kompleks.

Bagaimana jika ternyata mereka ketinggalan kereta? “Ya terpaksa jalan kaki. Hanya itu pilihannya,” ujar pemandu kami.

Jika ketegangan di puslitbang Huawei dihalau oleh kafe, minimarket, perpustakaan, dan tempat gym, tidak demikian yang berlaku di pabrik. Di pusat produksi telepon pintar Huawei itu, manajemen menerapkan aturan jam kerja yang ketat. Yakni, istirahat 10 menit setiap selesai bekerja dua jam. Aturan tersebut terutama berlaku di unit produksi.

Setiap karyawan berhak atas hak istirahat tersebut. Secara bergiliran, mereka meninggalkan pekerjaan untuk santai selama 10 menit. Maklum, pekerjaan yang mereka lakukan menyita banyak tenaga dan perhatian.

Mempersiapkan, memasang bagian inti, memeriksa hingga mengemas smartphone secanggih P30 membutuhkan konsentrasi tinggi. Dengan istirahat teratur, produktivitas para pekerja tetap terjaga.

Sebenarnya, tidak banyak pekerja di ruang produksi Huawei. Sebab, pabrik itu dilengkapi sistem dan teknologi yang canggih. Pekerjaan-pekerjaan ringan yang bisa ditangani mesin atau robot tidak dikerjakan oleh pekerja. Otomatisasi lantas memangkas jumlah tenaga kerja.