Pupuk Nasionalisme hingga Ungkap Bahaya Medsos

MALANG KOTA – Ada pemandangan tak biasa di ajang Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki kemarin (13/8). Ribuan mahasiswa baru (maba) yang berbaris di lapangan itu membentuk formasi menakjubkan.

Dalam hitungan detik, barisan mahasiswa tersebut membentuk formasi pulau Indonesia dengan background merah putih.

Kemudian berubah menjadi formasi menyerupai tulisan ”Islam Nusantara”, ”NKRI Harga Mati”, ”74 Dirgahayu Republik Indonesia”, ”Kita Indonesia”, dan ”UIN Malang”, serta beberapa formasi lain.

Sebelum menunjukkan kreasinya melalui formasi barisan, sekitar 3.441 maba mendapatkan materi dari Wali Kota Malang Sutiaji dan Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad di gedung Sport Center.

Dalam kesempatan itu, Sutiaji berpesan agar para mahasiswa memaksimalkan potensinya selama kuliah di UIN. Sebab, mereka adalah anak-anak terpilih yang memiliki kesempatan berharga.

Tahun 2019 ini, ada 110 ribu pendaftar yang memilih UIN. Tapi, yang diterima hanya sekitar tiga ribu maba.

”Kota dengan peminat mahasiswa tertinggi untuk saat ini adalah Malang. Hanya orang yang punya kreativitas saja yang mampu (kuliah di Malang),” ujar Sutiaji di hadapan ribuan maba 2019.

Sementara itu, Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad mengingatkan mahasiswa agar memahami dampak industri 4.0 yang begitu pesat.

Terutama dalam penggunaan Internet of Things bahwa semua bisa dilakukan dengan internet. Mulai dari media sosial (medsos), aplikasi delivery hingga ojek online (ojol) yang tengah menjadi gaya hidup masyarakat.

Namun, atas segala kemudahan tersebut, tanpa sadar data pribadi kita terenkripsi oleh aplikasi tersebut. Jadi, melalui mobile positioning data seseorang dapat mengetahui lokasi kita hanya dengan nomor telepon saja.

”Ketika banyak kemudahan yang kita dapatkan dari berbagai aplikasi tersebut, semakin data pribadi kita yang terakses juga semakin banyak pula,” kata pria kelahiran Jombang itu.

Terpisah, Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN Malang Silvia Abdi Pratama menyatakan perkembangan media yang pesat memicu tersebarnya hoax.

Akibatnya, terjadi kerusuhan di beberapa daerah. ”Beberapa saat yang lalu memang rawan kerusuhan sehingga kami harap mahasiswa baru dapat lebih kritis,” kata Silvia kemarin.

Guna mengantisipasi kerusuhan, dia mengusung tema Perkuat Nasionalisme dan Kemandirian Bangsa.

Tema tersebut diwujudkan dalam flashmob yang disuguhkan melalui formasi barisan para maba. ”Mahasiswa harus mampu mengatasi permasalahan maupun isu yang beredar,” ujar mahasiswi angkatan 2015 tersebut.

Pewarta : nr4
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Mahmudan