Puluhan Driver Grab ”Serbu” Kantor Go-Jek

MALANG KOTA – Puluhan driver transportasi online Grab tampak mendatangi kantor Go-Jek di Jalan Martadinata No 4–6 Kota Malang Senin siang (3/12). Mereka mendatangi kantor tersebut karena ingin beralih dari aplikasi Grab ke Go-Jek.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Radar Malang di lokasi, para driver yang masih mengenakan jaket Grab tersebut sudah tidak betah dengan peraturan dan kebijakan perusahaan yang memiliki kantor pusat di Singapura dan Malaysia tersebut. ”Jelas masalahnya aturan Grab yang berubah terus. Tiap minggu berubah. Anggota menjadi pusing,” ujar Mika, warga Kedungkandang yang juga salah satu driver Grab yang mendaftarkan diri ke Go-Jek.

Dia merinci bahwa kebijakan yang dibuat Grab selalu semena-mena dan tanpa pemberitahuan sebelumnya, sehingga hal itu membuat bingung para driver-nya.

”Insentif (bonus)-nya juga berubah terus. Terkadang satu minggu berubah, kadang dua minggu berubah,” imbuh pria yang sudah menjadi driver dalam kurun waktu satu tahun terakhir ini.

Dirinya melihat bahwa Go-Jek dirasa bisa dijadikan patokan karena aturannya yang tidak berubah-ubah. Oleh karena itu, dia ingin mendaftarkan diri menjadi driver Go-Jek. ”Masalahnya, kita kerja pasti memilih yang terbaik. Ingin cari yang sejahtera dan tidak membingungkan pekerja lapangan,” tegasnya.



Sementara itu, driver Grab lain, Arik, juga menuturkan hal yang sama. Dia juga tidak betah dengan aturan Grab. ”Intinya memang seperti itu (soal insentif yang tidak jelas),” ujar Arik, warga Sukun tersebut.

Dirinya menuturkan bahwa dia telah mengantre sejak pukul 08.00 agar bisa mendaftarkan dirinya ke Go-Jek. Dia mendapat informasi dibukanya pendaftaran Go-Jek dari grup WhatsApp dan Facebook khusus para driver online.

Dari informasi yang diterima Radar Malang, Go-Jek Malang hari ini membuka pendaftaran sebanyak 100 driver ojek online. Namun, dari pihak pendaftar, mereka mengaku bahwa jumlah kuota yang disediakan adalah sebanyak 150 orang.

Sementara perlakuan tak menyenangkan ditunjukkan pihak Go-Jek saat wartawan ini berusaha melakukan konfirmasi. Bahkan awak media yang berusaha meliput hal itu diusir oleh seorang ”preman” yang berjaga di kantor tersebut. ”Anda berhak meliput di sini, tapi kami juga punya hak untuk tidak memperbolehkan Anda meliput di sini. Jadi mohon dimengerti,” ujar salah seorang penjaga berbadan besar dan bertato tersebut pada wartawan Radar Malang.

Selain mengusir wartawan Radar Malang dari lokasi kantor tersebut, dirinya juga menolak untuk diajak mengobrol. ”Mohon maaf, saya tidak bisa memberikan keterangan apa pun, silakan Anda beranjak dari sini,” sambungnya.

Bahkan, wartawan Radar Malang ini juga sempat dipanggilkan pihak sekuriti sebelum meninggalkan lokasi.

”Mas, tolong ini, Mas,” ujar pria tersebut pada pihak sekuriti sembari menjulurkan jari telunjuknya pada wartawan ini.

Pengusiran tersebut juga menimpa wartawan Kompas.com dan Jawapos.com. Kedua wartawan dari dua media tersebut juga mengaku diusir ketika berusaha meliput banyaknya pendaftar driver Grab yang beralih ke Go-Jek.

Pewarta: Gigih Mazda
Copy Editor: Amalia
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Gigih Mazda