Publikasi Ilmiah Internasional, Menristekdikti: Alhamdulillah, Indonesia Peringkat Pertama di ASEAN

Publikasi Ilmiah Internasional, Menristekdikti: Alhamdulillah, Indonesia Peringkat Pertama di ASEAN - JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan riset dan inovasi mengalami peningkatan pesat dalam lima tahun terakhir. Hal ini ditandai dengan capaian publikasi ilmiah internasional dan paten Indonesia yang menempati posisi pertama di ASEAN. Inovasi dalam bentuk perusahaan startup juga mengalami pertumbuhan signifikan.

“Tahun 2013 publikasi riset kita masih ada di nomor 4 ASEAN, demikian juga paten juga sama, selalu nomor 4. Alhamdulillah di tahun 2018 paten kita sudah nomor 1 di ASEAN. Dan di tahun 2019 publikasi ilmiah internasional kita juga peringkat pertama di ASEAN, ” ujar Nasir di Jakarta, Selasa (15/10).

Menteri Nasir menambahkan pertumbuhan startup binaan Kemenristekdikti juga luar biasa. Tahun 2015 ada 54 startup, tetapi di 2019 sudah ada 1.307 startup. Pekerjaan besar selanjutnya adalah bagaimana inovasi bisa dihilirisasikan ke industri dan memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional.

“Jangan sampai jumlah publikasi, paten dan inovasi berhenti pada angka-angka semata. Namun harus dihirisasikan ke industri dan masyarakat agar menjadi faktor penggerak ekonomi nasional. Peneliti dan perekayasa baik dari LPNK dan perguruan tinggi memiliki peran yang sangat besar,” tuturnya.

Dia menambahkan pendekatan riset harus diarahkan pada “market driven” dan “demand driven”. Ekosistem riset dan inovasi harus dibangun dengan baik, hubungan antara pemerintah, industri dan akademisi (Triple-Helix) haruslah sinergis.

“Masalahnya adalah riset kita belum mempunyai ekosistem yang baik, harus ada hubungan baik antara peneliti, industri, dan pemerintah. Peneliti bingung hasil risetnya mau dipakai siapa, industri bingung siapa yang mau jalani riset,” ujar Nasir.

Menteri Nasir juga mengatakan perlu ada perbaikan kebijakan supaya riset terarah dengan baik dan juga riset perlu dikawal yaitu Perpres 38/2018 RIRN 2017-2045, Kemenristekdikti membuat 9 fokus litbangjirap di Pangan Pertanian, EBT, Kesehatan Obat, Transportasi, Nanotech dan ICT, Hankam, Kemaritiman, Sosial Humaniora Budaya Pendidikan, dan bidang riset lainnya.

“Setiap fokus riset harus jelas target dan capaiannya. Semua harus punya bayangan terkait “supply chain”- nya. Ada integrasi, seperti dengan klaster inovasi, klaster pangan fungsional. Semua digarap dari hulu hingga hilir,” ujar Nasir