PRSSNI Ajak Masyarakat Dengar Radio, Sebelum Mati Lagi

Dalam peringatan Radio Day ini, para insan radio menyadarkan masyarakat jika radio sudah mati, maka masyarakat pasti akan kehilangan. Sebab radio adalah media yang selalu tak lekang oleh zaman.

“Ini saya ibaratkan dengan analogi. Analoginya kita enggak pernah melirik got saluran air sampai akhirmya mampet dan mengakibatkan banjir. Begitu juga radio saat sudah mati baru deh merasa kangen kehilangan, dicolek baru tergugah,” tegas Ketua Umum Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) M Rafiq dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (11/12).

Rafiq mengungkapkan, penetrasi pendengar radio memang menurun sejak 2012 hingga saat ini. Namun dibandingkan tahum lalu, jumlah pendengar cenderung naik dan diharapkan budaya mendengar radio kembali bergairah.

“Dari tahun 2016-2017 naik pendengarnya. Selama 5 tahun terakhir tahun 2012 ada 70 persen di Jakarta, sekarang 37 persen saja,” kata Rafiq.



Dia berharap akan ada 70 persen masyarakat lainnya lagi yang mulai membiasakan budaya mendengar radio. Salah satunya melalui momentum Radio Day saat ini. “Jadi 70 persen masyarakat di Jakarta harus dengar radio asal kompak,” jelasnya.

Jika di Jakarta saja pendengarnya menurun, bagaimana dengan karakter pendengar masyarakat di daerah? Rafiq menjelaskan, Jakarta adalah potret gambar karakter masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

“Jika Jakarta saja sudah menurun apalagi di daerah, karena itu ayo sama-sama dengar radio lagi,” tandasnya.


(ika/JPC)