Proses Penyerahan Bantuan Radar Peduli Tahap Dua (2-Habis)

Memasuki hari kedua pendistribusian bantuan tahap kedua dari pembaca Radar Malang dan Forum Komunikasi Warga Tionghoa Malang Raya (FKWTMR) untuk korban gempa di Lombok kemarin (19/8) diliputi suasana begitu haru. Sejumlah warga terlihat menitikkan air mata.

Ratusan tenda pengungsi berderet sepanjang jalan menuju Dusun Kembang Kuning, Desa Gerimax Indah, Kabupaten Lombok Barat. Total ada 1.000 jiwa dari 217 kepala keluarga sudah tidak lagi bisa menempati rumahnya. Sejak gempa mengguncang Pulau Seribu Masjid–sebutan pulau di Provinsi Nusa Tenggara Barat itu– semua penduduk dusun ini memilih tinggal di tenda-tenda. Sebagian ada yang di tanah lapangan, tak sedikit yang membuat tenda di depan rumahnya masing-masing.

”Tidak semua rumah di dusun kami roboh, tapi mayoritas sudah retak. Daripada ada apa-apa, lebih baik tinggal di tenda saja,” ungkap Sumardi, kepala Dusun Kembang Kuning, saat tim Radar Peduli dan FKWTMR membagi bantuan kemarin.

Sumardi begitu senang dengan kehadiran tim Radar Peduli dan FKWTMR ke kampungnya. Karena itu, begitu tahu ada bantuan, dia langsung memanggil warga untuk berkumpul. Sebelum penyerahan bantuan berupa susu, selimut, dan mi instan secara simbolis kepada warga, Sumardi langsung memberikan sambutan di hadapan warga dan relawan. Namun, baru saja menyampaikan salam dan dua atau tiga kalimat ucapan terima kasih, Sumardi menghentikan sambutannya.

Tampaknya, dia sudah tidak kuasa melanjutkan sambutan itu. Pria dengan tubuh tinggi besar ini langsung menutup wajah dengan kedua tangannya. Air mata tampak meleleh. Sembari sesenggukan, dia meminta maaf. ”Saya sudah tidak bisa berkata-kata lagi, terharu atas kepedulian Bapak-Bapak dari Malang ini,” ungkap Sumardi sembari bergeser untuk meminta rekannya melanjutkan sambutan.

Sejumlah warga pun terdiam. Bahkan, ada warga yang tak kuasa membendung air matanya. Suasana benar-benar haru.

Ya, usai prosesi penyerahan bantuan, kepada koran ini Sumardi menyatakan, sebagai kepala dusun, dia hanya bisa memberi motivasi kepada warganya untuk bangkit dari kesedihan. Warganya saat ini sedang kehilangan semangat hidup. Warganya yang banyak bekerja sebagai perajin bakul dari anyaman bambu itu mulai malas bekerja.

”Maklum karena mereka memikirkan nasibnya ke depan. Rumah tidak ada, biaya membangun lagi juga tidak punya. Mereka hanya berharap mendapat bantuan,” keluh Sumardi. Dia mengaku tidak tega melihat kesedihan warganya. Terutama banyak anak-anak yang tidur di tenda seadanya. Apalagi saat ini sedang musim dingin. ”Kasihan sekali, kasihan,” keluh dia.

Usai menyerahkan bantuan di Dusun Kembang Kuning, Desa Gerimax Indah, tim Radar Malang bersama FKWTMR bergeser ke Desa Tegalmaja, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Jaraknya sekitar 100 kilometer dari Kota Mataram ke arah utara. Butuh waktu 2,5 jam perjalanan.

Di Kecamatan Tanjung, Lombok Utara, inilah salah satu pusat gempa yang terjadi. Tak heran jika sejauh mata memandang, rumah dan gedung nyaris tak tersisa. Rata dengan tanah. Kalaupun ada bangunan yang berdiri, kondisinya sudah miring dan retak-retak. Tidak mungkin lagi untuk ditempati. Termasuk gedung milik pemerintah, baik kantor kecamatan, kantor desa, gedung sekolah, maupun puskesmas.

Begitu tiba di desa ini, tim Radar Malang dan FKWTMR langsung disambut Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI Caliadi SH MH. Tepatnya di posko Dayakasabha, Wihara Sangupati, proses penyerahan bantuan dilakukan.

Pewarta : Abdul Muntholib
Editor: Dwi Lindawati
Penyunting: Abdul Muntholib