Program Khofifah-Emil lebih menarik dan inovatif

Program Khofifah-Emil lebih menarik dan inovatif

Menurut Faza, pasangan nomor urut 1 itu sangat lekat dengan kepintaran dan kecerdasan. Khofifah dikenal sebagai perempuan hebat dan pintar sejak menjadi mahasiswa. Hal itu terbukti dengan terpilihnya Khofifah sebagai Ketua Cabang PMII perempuan pertama di Indonesia.

Sementara Emil merupakan doktor termuda. Ia meraih gelar tersebut dari Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang saat usianya baru 22 tahun. “Menurut saya, mereka sudah membuktikan kepintarannya. Mereka ini memiliki program yang menurut saya bagus. Program-program Khofifah-Emil lebih menarik dan inovatif. Kami harus fair mengatakan itu,” kata Faza kepada RADAR MALANG ONLINE, Rabu (7/3).

Bukti kepintaran dan kecerdasn Khofifah-Emil terlihat dengan penggunaan slogan-slogan yang unik. Misalnya, Nawa Bhakti Satya sebagai sebutan 9 program Khofifah-Emil untuk menyejahterakan rakyat Jatim. Kemudian tagline Kerja Bersama Untuk Jatim Sejahtera.

Bagi Faza, slogan-slogan yang dipakai Khofifah-Emil sangat inovatif. “Kemudian jargon-jargonya. Semacam kywordnya itu, Nawa Bhakti Satya. Itu kan pasangan tetangga tidak punya. Ini bukti kenapa kemudian Khofifah-Emil memiliki itu. Karena Khofifah-Emil memanfaatkan potensi kepintaran dan kecerdasannya. Artinya, mereka itu mikir. Dari situ saja kan memang beda. Ini gebrakan banget,” terang Faza.

Kendati demikian, Faza tidak mengesampingkan keberadaan tim Khofifah-Emil. Sampai saat ini, tim Khofifah-Emil telah menunjukkan kepiawaiannya ikut merancang sebuah program dan cara kampanye yang inovatif bersama Khofifah-Emil.



“Tapi harus dipahami juga, level intelektualitas ini kemudian bisa diejawantahkan oleh timnya. Itu yang penting. Percuma kalau calonnya pintar tapi timnya tidak bisa mengejawantahkan, ya akan mandul,” tukasnya.

Terpisah, pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura Mochtar W Oetomo turut mengamini kepintaran dan kecerdasan yang dimiliki pasangan Khofifah-Emil. Oleh karena itu, Mochtar menyarankan agar Khofifah-Emil bisa maksimal menyentuh kelangan intelektual.

“Khofifah-Emil unggul dalam intelektualitas. Mereka punya visi, punya kepintaran. Dengan posisioning seperti itu, Ibu Khofifah dan Emil harus punya segmen di kelas menengah ke atas. Misalnya ke tempat-tempat seminar, kampus, organisasi profesi,” sambung Mochtar.


(mkd/JPC)