Profesor Bambu

Ibu dua anak ini, berumur hampir 70 tahun. Tapi masih energik. Dia profesor.  S-2 dan S-3-nya diraih di University of Birmingham, Inggris. Khusus mendalami ilmu taksonomi tanaman. Jika pada akhirnya dia dijuluki sebagai profesor  bambu, itu karena hampir separo hidupnya dia habiskan untuk meneliti dan mengakrabi  tanaman bambu. Dan kini, dia adalah satu-satunya profesor ahli taksonomi bambu di Indonesia: Prof Elizabeth Anita Widjaja PhD.

Saya bersyukur, bisa bertemu langsung dengan dia, dan ngobrol panjang lebar tentang seluk-beluk bambu, ketika dia mengunjungi Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Selasa lalu (30/4). Dari Prof Elizabeth, saya semakin tahu, bahwa Indonesia sangat kaya dengan spesies bambu.

Dari Prof Elizabeth, saya (baru) tahu, bahwa spesies bambu yang ada di Indonesia, banyak dicuri oleh negara lain. Yang dicuri adalah plasma nutfahnya.  Dari Prof Elizabeth, saya juga (baru) tahu bahwa Indonesia sudah berhasil bikin sabun, sampo, sabun cuci piring, dan oil untuk perawatan tubuh, yang semua itu terbuat dari bahan bambu.

Bahkan, Indonesia juga sudah bikin kaus kaki dari bambu. Apa istimewanya kaus kaki dari bambu? Kaus kaki dari bambu ini terutama bagus untuk orang yang kakinya bau. Kaki bau itu disebabkan karena bakteri. Sedangkan bambu, mengandung zat antibakteri. Jadi, kalau orang yang kakinya gampang bau, jika mengenakan kaus kaki dari bambu, maka bau kakinya akan hilang.

Dari Prof Elizabeth saya juga baru tahu, bahwa arang bambu dicampur dengan cuka dari bambu, kemudian dicampur dengan makanan untuk ikan, maka sudah terbukti, dalam waktu tiga bulan, ikan akan tumbuh lebih cepat besar.  Itu juga bisa diterapkan untuk peternakan ayam dan kambing. Bagaimana bisa? Prof Elizabeth menjelaskan, itu karena bambu mengandung fenol.



Saya punya pengalaman ketika ke Vietnam, di kawasan dekat Halong Bay. Di sana saya mengunjungi satu tempat yang khusus menjual aneka produk dari bambu. Ada sabun, sampo, handuk, kaus kaki, bantal, guling, aneka makanan, dan aneka kebutuhan rumah tangga lainnya.

Di sana, selain dijadikan sebagai wisata edukasi, di mana para tamu dijelaskan tentang manfaat bambu, serta bagaimana bambu di Vietnam dikembangkan dan diteliti, juga dijadikan sebagai wisata belanja.

Di sana ada supermarket besar, kira-kira sebesar Giant pada umumnya di Indonesia, yang 80 persen lebih barang-barang yang dijual di sana terbuat dari bambu, atau yang berhubungan dengan bambu.

Saya bertanya ke Prof Elizabeth, apakah di Indonesia ada tempat wisata yang ”menjual” potensi bambu seperti di Vietnam? Dia menjawab: ”tidak ada”.

Sebenarnya, kata dia, kalau pemerintah mau, sangat mungkin bikin tempat wisata yang menjual potensi bambu di Indonesia seperti yang ada di Vietnam. ”Pemerintah harus punya kemauan, didukung ada pengusaha yang mau berinvestasi. Karena untuk mengembangkan potensi bambu, butuh investasi yang tak sedikit,” ujar perempuan yang pernah dua kali meraih penghargaan The Best Scientist in LIPI dan dua kali mendapat penghargaan Satyalancana Karya dari pemerintah ini.

Sebenarnya, di Indonesia cukup banyak terdapat hutan bambu. Di Bali, Bandung, Surabaya, dan di daerah lain. Tetapi, lanjut Prof Elizabeth, kebanyakan belum diatur secara rapi, dan belum dikembangkan secara maksimal.

Ini berbeda dengan hutan bambu yang ada di Boonpring, di Desa Sanankerto. Di sana, sudah dikelola relatif lebih baik. Ada pihak dari desa yang mengatur dan mengelola, dan sudah dikembangkan menjadi ecowisata yang saat ini mampu membukukan pemasukan hingga Rp 12 miliar lebih per tahun.

Karena itulah, Prof Elizabeth tertarik ketika ditawari untuk mengunjungi Boonpring. Dan menurut dia, Boonpring sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata andalan di Kabupaten Malang. Yakni, ecowisata yang secara khusus mengeksplorasi potensi bambu.

”Boonpring harus ditambah spesies bambunya. Saya punya puluhan spesies bambu di rumah. Saya akan kasihkan bibitnya untuk ditanam di Boonpring,” kata Prof Elizabeth.

Sayang, keahlian Prof Elizabeth yang langka itu, tak dimanfaatkan secara selayaknya oleh pemerintah. Dia sudah tidak ngajar lagi di IPB, kampus tempat dia sebelumnya pernah mengajar.

Padahal, sosok Prof Elizabeth bisa mencetak para ahli di bidang per-bambu-an, jika dia diberi kesempatan mengajar. Sehingga, ke depan, akan muncul ahli-ahli bambu lainnya, di mana sekarang ini semakin sulit ditemukan ahli bambu di Indonesia.

Justru, Prof Elizabeth banyak diundang oleh perusahaan swasta. Dia pernah diundang salah satu  perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Perusahaan rokok itu ingin memberi CSR, yakni membangun satu kawasan, agar kawasan tersebut dapat menyimpan air dalam jumlah yang besar.

Sehingga pada saat kemarau, tidak kekurangan air seperti yang selama ini terjadi. Caranya, dengan menanam banyak bambu. Dan di sinilah peran Prof Elizabeth. Dia banyak memberi masukan, bagi program tersebut.

Prof Elizabeth sangat tertarik dengan pengembangan Boonpring menjadi ecowisata bambu. Dia juga bersedia, dilibatkan untuk pengembangan Boonpring. Semoga, Pemkab Malang tergerak.

Semoga, dunia kampus juga tergerak. Kita menunggu, Boonpring menjadi objek wisata alternatif di Malang Raya. Bahkan di Jatim. Bahkan di Indonesia.  Boonpring menjadi ecowisata  bambu yang memesona dan menarik. Semoga. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp).