Produksi Meningkat, Harga Susu Sapi Murah

Lebih Mahal Air Mineral dalam Kemasan

Peternak menyetorkan susu sapi ke KUD di Desa Pesanggrahan, beberapa waktu lalu. Waktu pengiriman ke KUD setiap pagi dan sore.

KOTA BATU – Harga susu dari tahun ke tahun cenderung murah. Peternak hanya mendapatkan harga Rp 5.100 per liter dari KUD Kota Batu. Harga tersebut lebih murah daripada air mineral dalam kemasan.

Menyikapi hal itu, KUD Kota Batu berupaya membantu untuk mengerek harga. Susu sapi yang diolah menjadi berbagai minuman dan makanan yang dipasarkan di Kota Batu merupakan salah satu caranya. Selain ini, saat ini KUD tengah merampungkan bangunan yang direncanakan sebagai destinasi wisata edukasi susu. Lokasinya berada di depan Jatim Park 3, Desa Beji, Kecamatan Junrejo.

Ketua KUD Kota Batu Ismail Hasan menerangkan bahwa pihaknya sedang berupaya menaikkan harga susu sapi dari peternak. Namun, hal itu tidak bisa instan. ”Kami masih membangun tempat wisata edukasi susu sapi,” kata Ismail kemarin (24/3).

Nantinya di tempat wisata edukasi tersebut, wisatawan akan mengetahui proses perawatan sapi hingga mengolah susu sapi menjadi berbagai minuman dan makanan olahan. ”Wisatawan akan belajar menjadi peternak,” kata dia.

Saat ini, setiap hari KUD Kota Batu menerima 20 ton susu segar dari sekitar 1.000 peternak. Sekitar 70 persen di antaranya dikirim ke IPS (industri pengolahan susu).



”30 persennya kami olah sendiri dan dipasarkan kepada wisatawan,” terangnya. Satu peternak, kata dia, biasanya menyetorkan susu mulai dari 10 liter hingga 30 liter per hari.

Ismail menjelaskan, produksi susu sapi pada tahun ini mengalami peningkatan. Pada 2017 lalu, produksi susu sapi sebesar 17 ton per hari.

”Dulu banyak anggota yang keluar, sehingga tidak menyetorkan susu sapi ke KUD,” kata Ismail yang mengetuai KUD Kota Batu hingga 2023 ini.

Dia melanjutkan, peternak yang dulu meninggalkan KUD Kota Batu kini sudah kembali. Hal itu berkat perhatian dari KUD Kota batu dengan memfasilitasi alat minum untuk sapi.

”Kalau dulu pakai bak biasa. Kini pakai alat,” ujarnya. ”Kami melakukan pengadaan hingga 500 unit alat,” kata dia.

Peternak sapi yang menjadi anggota KUD Kota Batu ini tersebar di seluruh desa dan kelurahan. Seperti, Desa Tulungrejo, Gunungsari, Punten, Pandanrejo, Bumiaji, Pesanggrahan, Oro-Oro Ombo, hingga Tlekung.

”Peternak paling banyak di Toyomerto, Desa Pesanggrahan, dan Brau, Desa Gunungsari,” terang dia.

Masih menurut Ismail, KUD Kota Batu juga menyediakan pakan ternak berupa kosentrat. Lalu, pihaknya juga bekerja sama dengan Perhutani. Hal ini bertujuan agar peternak bisa menanam rumput kolonjono di lahan hutan.

”Saat ini juga banyak wisata alam. Itu membuat lahan untuk rumput ternak ikut berkurang,” terangnya.

Untuk diketahui, KUD Kota Batu baru saja merampungkan RAT (rapat akhir tahun) pada Kamis lalu (22/3). Dari rapat itu dikethui bahwa pendapatan KUD meningkat dari tahun lalu. Sebelumnya, pendapatn KUD Rp 650 juta dalam setahun. Sementara, tahun lalu KUD mendapatkan penghasilan Rp 700 juta.

Sementara itu, peternak sapi sekaligus pemilik Kampung Sapi di Desa Beji, drh Deddy Fachruddin Kurniawan mengatakan harga susu sapi di tingkat peternak harus naik.

”KUD harus memberikan pakan ternak dengan kualitas bagus, sehingga susu sapi juga bagus,” kata Deddy, kemarin.

Alumnus SMAN 1 Kota Batu ini mengatakan jika harga susu naik, peternak juga bakal memberikan pelayanan medis yang terbaik. Menurutnya, mulai dari pakan ternak, pelayanan medis, hingga akses akan meningkatkan kualitas susu sapi.

Deddy bercerita, dia membeli susu sapi dari peternak dengan harga Rp 7 ribu. Dengan harga tersebut, peternak bakal membeli pakan ternak yang terbaik dan pelayanan medis.

”Peternak tidak akan rugi, karena sebanding dengan pendapatan yang diperoleh,” terangnya.

Masih menurut Deddy, KUD Kota Batu bisa menaikkan harga susu sapi dalam waktu dekat. ”Saya kira sangat bisa jika koperasi berkomitmen menyediakan pakan ternak yang terbaik,” tutupnya.

Pewarta: Aris Syaiful
Penyunting: Aris Syaiful
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Rubianto