Produksi Cincau Hitam di Plandi Jombang Puluhan Tahun Tetap Eksis

Terlihat dua pekerja sibuk di samping rumah. Satu orang terlihat mengaduk cairan hitam di dalam drum besar. Satu orang lainnya, menjaga nyala api pada tungku di bawahnya. Beberapa menit kemudian, orang di atas drum mulai mengambil air hitam itu dan menaruhnya di kaleng kotak.

Sementara, pekerja sebelumnya yang menjaga tungku, ikut mengaduk air dalam kaleng. Sejurus kemudian ia ikut menata kaleng berisi air hitam tersebut. “Ini sedang membuat janggelan, karena kita tidak pakai mesin, semuanya harus dikerjakan manual, masih tradisional,” ucap Abdul Rokhim, pemilik usaha janggelan.

Lebih dari 20 tahun, industri rumahan di Plandi Jombang eksis membuat janggelan atau cincau hitam sampai sekarang. Padahal, produksinya masih gunakan cara manual tanpa mesin.

Proses pembuatan janggelan disebutnya cukup rumit. Dimulai dari daun janggelan yang harus disiapkan terlebih dahulu. Kondisi daun harus sangat kering sebelum diproses. “Biasanya daun ini kita datangkan dari Ponorogo, Ngawi dan beberapa kota lain, di Jombang sendiri tidak ada,” lanjutnya.

Daun yang sudah kering kemudian direbus selama beberapa kali. Rebusan pertama untuk mengambil sari daun janggelan. Sedangkan rebusan kedua dilakukan untuk mencampur sari janggelan dengan tepung kanji agar teksturnya bisa kenyal. Dan rebusan terakhir, dilakukan untuk mematangkan janggelan sampai benar-benar sempurna.

“Prosesnya bisa sampai empat jam, setelah siap, baru dituang di wadah kotak itu, untuk dicetak jadi kotak. Baru bisa dijual keesokan harinya,” tambahnya. Produk rumahan miliknya hanya dikerjakan seorang diri dengan dibantu anaknya M Syarifuddin, beserta dua pekerja.

Meski begitu, Rokhim menyebut setiap hari bisa produksi hingga 20 kaleng janggelan. Bahkan, jumlah ini bisa lebih banyak ketika pesanan membeludak. “Kalau hari biasa 20 kaleng, kalau bulan Ramadan biasanya permintaan naik, jadi produksinya bisa dua kali lipat,” tambahnya.

Setiap hari, ia dan beberapa anggota keluarganya juga memasarkan sendiri produk janggelan ke beberapa pasar tradisional. “Kalau harga biasanya Rp 40 ribu satu kaleng, ya dijual sendiri, ditunggui sendiri di pasar,” pungkas dia. (*)

(jo/riz/mar/JPR)