Produk Mamin Asal Batu Rawan Kalah Bersaing

KOTA BATU – Daya saing produk-produk di Kota Batu perlu digenjot lagi. Sebab, daya saing produk industri kecil menengah (IKM) di Kota Dingin ini masih tergolong rendah. Khususnya pada aspek kelaikan produk.

Mulai pendaftaran produk, sertifikasi, hingga pengujian komposisi produk. Baik itu pada produk makan minuman (mamin), olahan, maupun handycraft atau kerajinan tangan.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Kota Batu, hanya 122 produk dari 756 IKM yang memiliki legalitas. 644 sisanya masih belum.
Dari 122 produk tersebut, 65 di antaranya mereknya sudah terdaftar, dan 47 produk memiliki sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

”Kesadaran pelaku usaha memang perlu ditingkatkan untuk memenuhi legalitas produk, dan sesuai standar, supaya daya saingnya meningkat,” kata Kepala Bidang Usaha Mikro dan Usaha Kecil Menengah Efi Rahyoeningtyas kemarin (22/5).

Pemenuhan standar itu, kata dia, penting dilakukan oleh kalangan pengusaha. Dengan demikian, daya saing produk yang dihasilkan di Kota Batu ini bisa bersaing dengan produk-produk lain dari luar.

Apalagi, Kota Batu menjadi sasaran penjualan produk-produk dari luar daerah. Hal itu tak lepas dari kenyataan bahwa Kota Batu menjadi jujukan jutaan wisatawan dari berbagai daerah. ”Tingginya persaingan itu menuntut produk yang terpercaya dan terjamin,” kata dia.

Menurutnya, konsumen yang berasal dari berbagai daerah itu cukup selektif saat memilih produk. Mereka tidak hanya mempertimbangkan harga, tapi juga kualitas produknya, termasuk kelengkapan dalam produk. Dengan demikian, apapun yang dijual harus bisa bersaing dari sisi tampilan maupun kualitas produknya.

Karena itu juga, jika masih ada barang yang belum terdaftar mereknya atau berstandar, tentunya bisa berimbas terhadap penjualannya. ”Konsumen yang kebanyakan wisatawan dari luar daerah semakin cerdas dalam memilih produk,” ungkap dia.

Untuk itu, sebenarnya pihaknya selalu mendorong para pelaku usaha agar melengkapinya. Bahkan, untuk mendukung upaya tersebut, pemerintah memfasilitasi legalitas secara gratis. Seperti sertifikasi halal MUI, Uji Produk Komposisi, dan pendaftaran merek ke Kementrian Perdagangan. Untuk mendukung program tersebut, telah disiapkan dana sebesar Rp 208 juta.

Upaya tidak hanya dilakukan dengan meningkatkan kualitas produk, tapi juga pemasarannya. Produk-produk yang layak bersaing dengan produk dari daerah lain dibawa ke sejumlah pameran.

Salah satunya dibawa ke International Handycraft (INACRAFT). Selain pembiayaan pada peningkatkan kualitas produk, dana sebesar Rp 33 juta disiapkan untuk pembinaan IKM.

Pembinaan itu dikemas dalam program pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif usaha kecil menengah. Dana lain sebesar Rp 647 juta juga disiapkan untuk program pengembangan sistem pendukung usaha bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). (dia/c1/yak)