Mayoritas orang Indonesia pasti hapal pancasila. Namun, berapa banyak yang memahami makna lima sila, apalagi mengamalkannya?

 

IMRON HAQIQI

 

Rumah yang berada di ujung barat Jalan Citandui, Kota Malang, terlihat nyeni. Ada banyak patung, guci, dan barang-barang antik.

Di ujung salah satu ruangan, terdapat kursi berukuran besar. Dengan sandaran tinggi. Mirip singgasana raja.

Sementara di samping kiri-kanannya terpajang keris, tongkat, dan patung dewa-dewa. Lalu dindingnya juga penuh lukisan.

Siang itu, si empunya rumah, Ki Djati Kusumo, tengah membersihkan sebuah lukisan berukuran 50×100 sentimeter. Lukisan itu menampilkan gambar seorang wanita yang mengenakan busana sutera dan mengenakan perhiasan emas-permata. ”Ini lukisan Ken Dedes,” kata Ki Djati.

Di dekat lukisan itu, ada lukisan potret Bung Karno. Ukurannya juga 50×100 sentimeter.

Di rumah Ki Djati Kusumo, potret diri Bung Karno tak hanya satu. Masih Ada beberapa lainnya, yang berukuran lebih kecil.

Ki Djati mengaku suka barang antik. Terkait keberadaan kursi raja, dia mengaku bahwa pada 20 Mei 2008 dia juga mendapatkan gelar dari Sri Susuhunan Pakubuwana XIII Solo.

Gelarnya Kanjeng Kiai Pangeran Haryo Kusumo Yudho. ”Saya raja, tapi raja yang nyapu sendiri, membersihkan toilet sendiri,” ujar dia, lalu tersenyum.

Terkait foto dan lukisan Bung Karno tersebut, dia menyatakan bahwa pihaknya sangat mengagumi Bung Karno. Bahkan, dia menyatakan bahwa sejak kecil dijadikan anak angkat oleh kakak Bung Karno: Nyai Wardoyo.

Secara ideologi, Ki Djati amat dekat dengan Bung Karno. Ki Djati juga punya komitmen melanjutkan ajaran Bung Karno tentang Pancasila.

Bahkan, sejak 1987, dia menggagas konsep sekolah Pancasila. Di mana setiap orang bisa belajar di sana, tanpa perlu mengeluarkan biaya.

Ada alasan kuat, mengapa Ki Djati sampai perlu membuka sekolah Pancasila. Salah satunya karena dia melihat dari tahun ke tahun, banyak masyarakat yang sudah melupakan Pancasila.

Bisa dikatakan seperti ini: hapal Pancasila, tapi tak memahami konteksnya. ”Sejak rezim orde baru, Pancasila sudah melenceng. Jauh dari cita-cita utama Pancasila,” tegasnya.

Kunci utama Pancasila menurut dia terletak pada sila pertama, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Namun ternyata era saat ini ketuhanan itu justru disalahgunakan oleh oknum-oknum yang disebutnya sebagai ”Makelar Agama”. ”Padahal, soal ketuhanan itu tidak cukup hanya berhenti di agama, namun lebih dari itu,” terangnya.

Sekolah Pancasila ala Ki Djati ini biasanya dilaksanakan di Padepokan Wangon. Di Dusun Mbiru, Desa Gunungrejo, Kecamatan Singosari.

Ada tiga fase dalam pembelajaran Pancasila yang diterapkan. Fase pertama yaitu Pratama. Di fase ini, dikupas tuntas pemahaman Pancasila. ”Setiap warga negara kan harus mengerti Pancasila sebagai dasar negara. Nah, dalam fase ini akan dikupas tuntas terkait dengan makna Pancasila,” tuturnya.

Fase kedua yakni Tamtama. Dalam fase ini, Ki Djati menerangkan pemahaman kenegaraan dan kebangsaan.

Serta bagaimana bangsa Indonesia dapat bersikap sesuai dengan nilai dasar Pancasila, ”Dalam pembelajaran ini kami ingin murid-murid kami bisa menjadi ksatria dalam memperjuangkan bangsa Indonesia sesuai dengan nilai Pancasila,” tambahnya.

Sedangkan fase yang terakhir yaitu Purnama. Dalam fase ini akan diterangkan inti dari sebuah kehidupan, yakni tentang ketuhanan sesuai dengan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Secara spesifik, dalam fase ini, Ki Djati akan menerangkan pengetahuan tentang ketuhanan dan kemanusiaan. Secara lebih mendalam. ”Kami tidak melihat agamanya (peserta sekolah Pancasila) apa. Namun kami akan memberi pemahaman lebih dari itu, yakni tetang ketuhanan yang tentunya sesuai Pancasila,” tuturnya.

Tidak butuh waktu lama untuk mengikuti program sekolah tersebut. Pria berusia 71 tahun itu menyebut program sekolah tersebut hanya berlangsung dua hari. ”Tapi harus dilakukan secara intens, dua hari itu mungkin hanya berhenti makan dan salat bagi yang beragama muslim,” terangnya.

Setiap harinya, dalam dua hari itu, sekolah sudah dimulai setelah subuh. Dan berakhir pada pukul 12 malam.

Lantas, siapa saja muridnya? Ki Djati menyatakan, muridnya berasal dari latar belakang beragam. Baik agama, suku, maupun latar belakang pendidikan.

Ada muridnya yang berasal dari Makassar, Medan, Jakarta, dan Cirebon. ”Mayoritas yang ikut itu anak-anak muda,” tukasnya.

Sekali lagi, Ki Djati menyatakan bahwa, dia tak menarik biaya dari sekolah Pancasila ini. Syaratnya pun tidak muluk-muluk. Cukup menghubungi dan bikin janji lebih dulu dengan Ki Djati. Anda tertarik?

Pewarta               : *
Copy Editor         : Amalia Safitri
Penyunting         : Indra Mufarendra
Fotografer          : Imron Haqiqi