Presiden turki kunjungi yunani

Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras berharap kunjungan itu akan meredakan ketegangan Turki dan Yunani. Selain itu juga meningkatkan kerja sama antar kedua negara.

Seperti dilansir Guardian, hanya berselang sejam setelah turun dari pesawat dan beramah tamah, Erdogan langsung membombardir Yunani dengan pernyataan-pernyataan yang membuat telinga mereka panas.

Erdogan membahas Kesepakatan Lausanne yang ditandatangani pada 1923. Kesepakatan itu merupakan pembagian wilayah pasca Perang Dunia I dan tonggak berdirinya Turki modern.

Menurut Erdogan, kesepakatan itu sudah tua dan perlu diperbarui. Sebab, yang terlibat di dalamnya bukan hanya Yunani dan Turki. Tapi, juga beberapa negara lain seperti Jepang.



Pemimpin 63 tahun tersebut ingin pembaruan kesepakatan bisa melindungi minoritas Turki di wilayah utara Yunani. Erdogan berpendapat bahwa mereka masih didiskriminasi.

“Anda tidak akan menemukan perlakuan seperti itu pada penduduk Yunani di Turki,” ujar Erdogan kepada Presiden Turki Prokopis Pavlopoulos yang menyambutnya.

Di Yunani ada sekitar 100 ribu penduduk muslim keturunan Turki. Mereka tinggal di Thrace.

Erdogan menuding Pemerintah Yunani tidak mengizinkan kata Turk yang merujuk pada keturunan Turki ditulis di gedung-gedung sekolah. Padahal Yunani tidak akan bisa masuk NATO tanpa dukungan dari Turki.

Pavlopoulos menjawab. Ia mengatakan, Kesepakatan Lausanne menjelaskan wilayah dan kekuasaan Yunani serta Uni Eropa. “Tidak ada kekurangan di dalamnya, tidak perlu ditinjau ulang maupun diperbarui.”

Saat bertemu dengan Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras, Erdogan menyebut pemerintah Yunani gagal melindungi situs-situs zaman Ottoman. Selain itu juga menuding Yunani tidak menyediakan tempat ibadah yang memadai untuk umat Muslim di negara itu.

Tsipras langsung membantah dengan menyebut bahwa Yunani telah merekonstruksi beberapa masjid untuk umat Muslim. Yunani juga memberikan kebebasan beragama di negara tersebut.


(Reuters/sha/c10/ttg)