PPDB Sistem Zonasi Ancam Pemerataan Siswa di Kabupaten Malang

KEPANJEN – Pemberlakuan sistem zonasi untuk PPDB (pendaftaran peserta didik baru) SMA negeri di tahun ini menyimpan beberapa kekhawatiran. Seperti halnya tahun lalu, dikhawatirkan sistem itu mendukung tidak meratanya jumlah siswa di 13 SMA negeri di Kabupaten Malang. ”Untuk sekolah-sekolah besar, (sistem zonasi) ini menguntungkan. Tapi sebaliknya, bagi sekolah-sekolah yang berada di wilayah pinggiran, mereka masih banyak kekurangan siswa,” terang Kepala MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) SMA Negeri Kabupaten Malang Drs Supaat MSi.

Kondisi yang sering ditemui, calon siswa lebih memprioritaskan sekolah-sekolah favorit. Saat dipastikan tak bisa masuk sekolah tujuannya, kebanyakan calon siswa memilih keluar dari zonasi PPDB. Mereka pun kerap beralih ke sekolah lain, salah satunya sekolah swasta. Alhasil, SMA negeri yang berada di pinggiran Kabupaten Malang pun kerap tak mampu memenuhi kuota siswa. Secara umum, zonasi untuk PPDB SMA negeri tahun ini tak berbeda dengan tahun lalu.

Selain tidak meratanya jumlah siswa, sistem zonasi juga memungkinkan terjadinya ketimpangan kualitas akademik pelajar karena sekolah-sekolah favorit cenderung lebih leluasa dalam menjaring siswa dengan kemampuan akademik apik. Sementara, sekolah yang menjadi pilihan kedua atau ketiga tidak leluasa melakukan itu. Karena dua kekhawatiran tersebut, sekolah negeri yang berada di daerah pinggiran Kabupaten Malang tak menerapkan sistem tersebut.

Supaat lantas menyebut beberapa nama kecamatan yang enggan menerapkan sistem itu. Seperti, Kecamatan Ngantang, Pagak, Bantur, Sumbermanjing Wetan, dan Dampit. ”Kalau untuk sekolah di Lawang, Tumpang, Singosari, Kepanjen, Turen, dan Bululawang relatif banyak pendaftarnya. Di luar itu lebih sedikit,” ujar dia.


Sebagai dasar, dia menyampaikan jumlah pendaftar di SMAN Negeri 1 Lawang yang dipimpinnya. Tahun lalu, Supaat mengaku menerima sekitar 1.100 pendaftar. Dari total itu, hanya 432 siswa yang diterima. ”Kuota yang diizinkan dari kementerian hanya 12 rombel (kelas) dengan kapasitas maksimal 36 siswa per kelasnya. Lebih dari itu tidak diperkenankan,” jelas dia.

Hal senada juga disampaikan Kapala SMAN 1 Kepanjen Drs Maskuri. Pada tahun ajaran 2018 ini, pihaknya membuka kuota pendaftaran untuk 12 rombel. ”11 kelas dengan kapasitas 34 siswa dan satu kelas kecil dengan kapasitas 32 siswa,” kata dia.

Sejak pendaftaran dibuka pekan lalu, salah satu sekolah favorit tersebut telah melayani 736 pengambilan pin pendaftaran. ”Kalau melihat animo, tahun ini sepertinya semakin banyak, karena pendaftaran masih dibuka sampai tanggal 8 Juni mendatang,” tambah Maskuri.

Untuk mengatasi kekhawatiran tidak meratanya jumlah siswa, dia kembali mengingatkan beberapa alternatif yang bisa diambil. ”Tahun ini ada tiga alternatif yang bisa menjadi pilihan,” imbuhnya.

Untuk diketahui, dalam PPDB, setiap siswa diberi kesempatan untuk memilih dua sekolah. ”Boleh mengambil pilihan sekolah zona dalam-dalam, dalam-luar, dan luar-dalam,” papar Maskuri.

Opsi teranyar adalah kesempatan untuk memilih zonasi luar-dalam. ”Jadi, siswa diperkenankan memilih sekolah yang ada di luar zona (domisilinya) sebagai opsi pertama. Baru berikutnya bisa memilih zona dalam yang sesuai dengan domisilinya,” papar dia.

Pewarta: Farik Fajarwati
Editor: Moh. Arief
Penyunting: Bayu Mulya Putra