Potensi Laka di 14 Perlintasan KA

KEPANJEN Di Kabupaten Malang, potensi kecelakaan tidak hanya berasal dari jalan raya. Perlintasan kereta api (KA) tanpa palang pintu juga menyimpan potensi tersebut. Buktinya, sepanjang 2019 lalu, Satlantas Polres mencatat ada 4 kasus kecelakaan pada area tersebut.  ”Tiga dari empat kasus itu terjadi di Kecamatan Pakisaji dan Kepanjen,” terang Kasat Lantas Polres Malang AKP William Thamrin Simatupang.

Dia menyebut bila pengendara motor masih mendominasi angka kecelakaan tersebut. ”Iya, pengendara motor yang kebanyakan menjadi korban,” tambahnya. Soal faktor penyebab terjadinya kecelakaan, Kasi Manajemen Keselamatan Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Malang Hadi Sota menyebut sejumlah poin. Dia mengatakan bila kurang tertibnya pengguna jalan menjadi faktor yang paling dominan.

”Bisa jadi pengendara tidak konsentrasi, padahal rambu dan peringatan sudah banyak yang terpasang,” jelasnya. Dia menambahkan bila hingga tahun ini, setidaknya ada 14 perlintasan yang dipasang early warning system (EWS) atau sistem peringatan dini. ”Perlintasan tidak berpalang ada 14 yang sudah dipasang peringatan, baik rambu maupun bunyi. Namun, itu semua tidak ada artinya bila tidak tertib berlalu lintas,” tambah Hadi.

Ketidaktertiban pengendara itu juga dikeluhkan Iksan, 64, salah satu warga yang biasa menjaga palang perlintasan di Desa Jatirejoyoso, Kecamatan Kepanjen. ”Di sini memang masih banyak yang suka nerobos, makanya saya ditugaskan di sini. Tahun lalu saja di sini ada 2 kejadian kendaraan yang tertabrak KA,” kata dia. Total di wilayah Kabupaten Malang ada 37 perlintasan KA. Dari total itu, 14 di antaranya tak berpalang pintu.

Pewarta : Biyan Mudzaky
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Bayu Mulya