Potensi Ekspor Bunga Terganjal Perizinan

KOTA BATU – Jumlah permintaan komoditas bunga hias dari luar negeri sebenarnya cukup tinggi. Sayangnya. sejumlah petani di Kota Batu masih sulit memenuhinya. Problem perizinan ekspor kerap menjadi batu sandungan bagi mereka.

”Kendala perizinan memang jadi masalah bagi petani untuk kirim ke luar negeri. Padahal jika proses perizinan ekspor mudah dilakukan, petani bunga di Kota Batu bisa bersaing dan meningkatkan perekonomiannya,” terang salah satu petani bunga hias asal Desa Sumberejo, Kecamatan Batu, Sony Rahmaputra.

Dari segi harga, pangsa pasar luar negeri sebenarnya cukup baik. Sony menyebut bila nilai jualnya bisa naik hingga lima kali lipat dari harga jual domestik. ”Namun sekali lagi terkendala perizinan.

Sehingga petani yang mengirim bunga ke luar negeri harus bergantung pada sesama petani yang sudah memiliki sertifikat pengiriman phytosanitary,” tambahnya.

Dia lantas menguraikan sejumlah jenis bunga yang banyak diminati di luar negeri.



Seperti bunga jenis philo pink princess, philo sudiroi, philo florida beauty ghost, philo monstera varigata, anthurium king vetchii, hingga antorium crystalium (kuping gajah).

Karena ada alasan tersebut, sejauh ini petani di Kota Batu baru bisa menjual produksinya ke pasar lokal. ”Bisa dibayangkan jika pemerintah mau menggali potensi serta memberikan fasilitas tersebut.

Di mancanegara harga tanaman yang banyak dibudidayakan petani Kota Batu mencapai ratusan ribu, bahkan jutaan per potnya,” papar dia.

Dia juga menyebut sejumlah negara yang mau membeli bunga dengan harga tinggi. Seperti dari Amerika, Taiwan, dan Jepang.

”Kalau harga normal di sini Rp 30 ribu sampai Rp 75 ribu, di sana bisa sampai Rp 350 ribu,” tambahnya. Sementara di Indonesia, petani dari Kota Batu banyak mengirim tanaman ke Lembang, Bandung, Jakarta. 

Pewarta : Miftahul Huda
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Bayu Mulya