Potensi Bencana Tinggi, BPBD Bikin Relawan Tangguh

Untuk menanggulangi bencana, BPBD (Badan Penanggulangan Bancana Daerah) Kota Batu punya cara khusus. Linmas (perlindungan masyarakat) dan perangkat Desa Punten dibentuk sebagai relawan tangguh.

KOTA BATU – Untuk menanggulangi bencana, BPBD (Badan Penanggulangan Bancana Daerah) Kota Batu punya cara khusus. Linmas (perlindungan masyarakat) dan perangkat Desa Punten dibentuk sebagai relawan tangguh.

Sedikitnya ada 50 orang yang dilatih kemarin (22/3), mulai dari linmas, anggota PKK (Pembinaan Kesejahrateraan Keluarga), karang taruna sampai kepala dusun yang ada di Desa Punten. Berbagai materi tentang kebencanaan dan penanggulannya pun diajarkan.
Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu Gatot Noegroho mengatakan, kegiatan ini berlangsung selama empat hari, sejak senin (19/3) dan ditutup kemarin (22/3). ”Selain Desa Punten, nantinya ada Desa Pesanggrahan dan Songgokerto, yang akan diadakan bergilir,” kata dia.

Kenapa diadakan di tiga daerah ini? Gatot menjelaskan, selama ini tiga desa tersebut memang mempunyai potensi bencana alam yang relatif tinggi. ”Dari desa yang sudah membuat usulan dan dibahas di musrenbang (musyawarah perencanaan dan pembangunan), jadi terus kami akomodasi,” katanya. Jika nantinya ada desa yang mengajukan pelatihan, BPBD pun akan senang hati turun tangan.
Selama empat hari, materi yang diberikan pun berbeda-beda. Pada hari pertama, ada materi konsepsi dan manajemen penanggulangan bencana. ”Masing-masing anggota harus tahu ancaman dan kerentanan bencana,” kata dia. Kedua, lanjut Gatot, ada materi PPGD (pertolongan pertama gawat darurat). ”Peserta diajari bagaimana menolong korban bencana yang mengalami luka,” kata dia.

Dia menjelaskan, PPGD ini sangat penting. Jangan sampai niat menolong malah membuat luka atau penderitaan korban semakin parah karena ketidaktahuan. Sementara yang ketiga adalah materi dari Tagana (Taruna Tanggap Bencana) Kota Batu. ”Materi yang diberikan Huntara (hunian sementara), dan selanjutnya dari kami dapur umum,” katanya.
Semua peserta, lanjut Gatot, harus tahu bagaimana menangani pengungsi, bisa mendirikan tenda, dan dapur umum. Sementara kegiatan terakhirnya adalah simulasi. ”Semua yang kami ajarkan itu akan disimulasikan,” katanya. Sehingga, para relawan ini akan siap setiap saat menangani bila terjadi bencana.

Lebih lanjut Gatot menjelaskan, tujuan diadakannya kegiatan ini adalah agar masing-masing desa punya satuan relawan siaga mandiri dan tangguh. ”Semuanya harus terencana, terkoordinasi, dan efektif,” ujar dia.

Pewarta : Aris Dwi
Penyunting : Aris syaiful
Copy Editor : Arief Rohman